Dulu ada kalanya pikiran dan perasaan dipenuhi rasa bingung, marah, lelah, sedih, khawatir, takut, kesal, jengkel, ngoyo, kecewa, dst. Rasa yang aku sebut gado-gado karena tidak nyaman. Adina yang dulu belum tau bagaimana menghadapi rasa gado-gado ini kadang memendam, kadang mengacuhkan, kadang mengalihkan, kadang curhat.

Banyak yang berkomentar yang kuterima:

  • “jangan nangis, ga baik”
  • “kita harus positif!”
  • “kita harus bahagia, ga boleh sedih!”
  • “dengerin lagu aja biar semangat”
  • “jalan-jalan aja biar ga stress”
  • “kalau kita sedih, artinya kita ga bersyukur”
  • “kan sudah punya semuanya, kok sedih sih?”
  • “karaoke yuk biar happy”
  • dst dsb dll

Apa efeknya komentar dan saran tersebut? Aku berpikir aku harus mengubah mindset “aku HARUS berpikir positif!”, “aku HARUS bahagia!”, “aku POKOKNYA ga boleh sedih!”, “aku semangat kok!” “kalau aku sedih, orang lain akan sedih”. Untuk membuktikannya, aku sering sekali mendengarkan lagu BAHAGIA by GAC. Kok ya paaaaasss sekali lagu BAHAGIA by GAC lagi ngetrend. Aku dengarkan saat mandi, siap-siap ngantor, di jalan otw kerja, di tempat kerja, di jalan otw rumah, dan sampai di rumah lagi. Seperti lagu kebangsaan aku putar lagu itu terus dengan ekspektasi mendekatkan diri ke pulau yang bernama BAHAGIA. Aku berhenti menangis. aku ga mau mengangis. Aku stop menangis. Dengan misi ingin bahagia berarti jangan nangis. Ditemani lagu itu, aku putar sampai beberapa lama. And trust me, lama.

Hingga akhirnya aku stop. Karena aku merasa perasaan gado-gadoku masih ada. Heran. Bingung. Linglung. Lelah. Kan aku udah stop nangis? Kan aku udah berpikir positif? Kan aku udah memutar lagu positif? Kan aku sudah menyanyi lagu yang positif? Kan aku udah melakukan hal-hal yang disarankan yang positif itu? Kan aku udah karaoke dan jalan-jalan? Kan aku udah nulis-nulis hal positif di post-it notes dan ditempel di mana-mana biar inget harus semangat?

Aku merasa otakku ga beres dan perlu dibenahi. Berpikir “kok ga positif-positif sih?” Untuk melawan perasaan negatif, aku lawan dengan pikiran positif. Masih berusaha, aku cari solusi hingga saatnya aku mengambil langkah untuk terapi menari. Berbekal baca buku dan riset di internet, aku mendapatkan kesimpulan bahwa menari dapat menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Pikirku, aku perlu spooring and balancing dengan menari biar bahagia.

Aku menemukan seorang dance choreographer, Mbak Tities, yang niatnya untuk terapi menari privat di rumah. Begitu bertemu pertama kali, Mbak Tities yang juga gifted, mengeluarkan kata-kata yang bikin aku kaget. “Bingung ya?” “Suka bikin target ya?” “Perfeksionis ya?” Seperti panah yang tepat sasaran, rasanya mendengar fakta-fakta itu aku sakit, tapi juga lega dan BAHAGIA. Aku berpikir, akhirnya ada orang yang paham dengan kondisiku. Langsung kami set up waktu untuk sesi pertama ASAP.

Dengan pakaian yang nyaman sudah siap untuk menari, aku datang ke tempat Mbak Tities. Dan ternyata di sesi pertama, kita tidak menari! Hehe.. Ternyata sesi “Adina Show” dengan Mbak Tities interviewernya. Di ruangan yang ada cermin luasnya, aku menghindari cermin. Mbak Tities menyadari dan meminta aku untuk bercermin. Aku tidak mau dan malu, tidak percaya diri. Mbak Tities tidak memaksa. Mbak Tities lalu memutuskan untuk memutar lagu dari HP.

bahagia

Apa lagu yang diputar? B A H A G I A by G A C.

Aku yang sudah sangat familiar dengar lagu itu, langsung seperti keran yang terbuka dengan deras, menangis selepas-lepasnya bersamaan dengan lagu itu diputar. Herannya, aku yang terbiasa kalau aku menangis hampir selalu ada yang menyuruh untuk berhenti menangis, Mbak Tities malah membiarkan aku menangis, mengamati, dan memberiku ruang untuk bereaksi dengan lagu itu.

Heran, padahal aku belum pernah cerita lagu kebangsaanku itu ke Mbak Tities. Kebetulan? Kalau memang Allah sudah menggariskan untuk memintaku untuk JUJUR dengan perasaanku sebenarnya, itulah yang terjadi. Tidak perlu cermin lebar untuk berkaca ke hati. Reaksiku sudah mencerminkan perasaanku saat itu. Hebat banget ya cara Allah. So beautiful.

Di situlah aku pertama kali belajar JUJUR dengan perasaan gado-gado itu. Karena sudah lama sekali aku merasa bersalah dengan punya perasaan gado-gado itu. Merasa bersalah ke diri, ke Allah, dan orang-orang terkait. Takut sekali berdosa. Takut tidak bersyukur. Komentar-komentar orang membuatku merasa takut dengan perasaan negatif itu. Walaupun demikian, dengan rasa hormat dan kasih sayang, terimakasih kepada yang telah memberiku saran. Thank you for being there with me. Dengan niat baik komentar dan saran itu disampaikan ke aku.

Di sesi-sesi selanjutnya dengan Mbak Tities, aku diajak untuk JUJUR dengan perasaanku sendiri (Iya, kami malah tidak terapi menari, hehe..). Mbak Tities mendengarkan semua ceritaku dengan sabar dan lembut. Di saat yang sama, aku pun juga belajar untuk mendengarkan diriku sendiri. Hal yang baru sekali untukku saat itu. Dengan berjalannya waktu, aku berkembang dan tambah baik dalam mendengarkan isi hati dan pikiranku.

Aku sadar, bukan lagu BAHAGIA yang salah, but my attitude towards that song was wrong. Aku dulu menggunakan lagu itu untuk pelarian, pelampiasan, pemendaman, pengacuhan dari perasaan gado-gadoku yang tidak nyaman itu. Ternyata kalau aku berani untuk JUJUR dengan perasaanku, aku tidak perlu menutupinya dengan lagu-lagu. Now I’m happy to say that my relationship with that song is better. Aku merasa netral saat mendengarkan dan malah cenderung bisa menikmati. Aku mendengarkannya sebagai keindahan dan doa.

Bagaimana dengan Pulau Bahagia? Baru kemarin aku melihat video kartun tentang Happiness. Kalau kita mencari kebahagiaan dan menjadi obsessive untuk mendapat kebahagiaan, kita akan kecewa kalau kita belum menemukannya. Kata-kata HARUS, WAJIB, KUDU, POKOKNYA bahagia, sangat membuat beban. Aku sudah merasakannya. Ibarat kebahagiaan seperti berada di suatu tempat lain, di waktu lain, di masa depan. Dengan demikian, kita tinggal di tempat lain, di waktu lain, di masa depan. Kita tidak tinggal dan hadir di sini kini saat ini. Padahal kebahagiaan itu berada di saat ini jika kita ingin dan bisa menerima apa yang hadir saat ini.

Menerima apa yang hadir saat ini pun tidak hanya hal yang menyenangkan, tetapi juga hal yang kurang menyenangkan. Apa yang hadir seperti pelangi, punya spektrum dan bervariasi. Justru di sinilah aku belajar menerima perasaan gado-gado ku itu. Begitu diterima dan dirasakan, gado-gado itu ternyata nikmat, hehe.. Saya sendiri penggemar gado-gado. Loh.

Bukankah Allah menciptakan malam dan siang? Gelap dan terang? Ada perasaan senang dan sedih. Ada suka dan duka. Ada tawa dan tangisan. Ada yin dan yang. Dan keduanya terjadi bersamaan. Di Indonesia sedang siang tetapi di belahan dunia lain sedang malam. Di Australia sedang musim kemarau, dan di Amerika sedang musim dingin. Bersamaan dengan kesulitan, ada kemudahan.

Apa yang aku pelajari?

  1. Aku belajar jujur dengan perasaanku.
  2. Aku belajar menerima dan merasakan ‘gado-gadoku’.
  3. Aku belajar makna innama’al ‘usriyusro. Bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan. It’s okay to not be okay.
  4. Aku belajar hidup di sini kini saat ini. Karena kebahagiaan itu berada di sini kini saat ini. Bukan di tempat dan waktu lain.
  5. Aku belajar untuk memperbaiki sikapku kepada lagu BAHAGIA by GAC. Menikmatinya, bukan sebagai pelarian, pelampiasan, pengacuhan, pemendaman, atau perlawanan perasaan.

Aku inshaAllah tetap percaya kebahagiaan itu ada. Akan kututup dengan doa. “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah: 201).

Sejak aku berusaha untuk sembuh dari depresi dan belajar tentang metode penyembuhan, aku mendengar beberapa analogi dari beberapa sumber. Analogi ini dipakai untuk memudahkan kita memahami apa yang terjadi dan solusi apa yang perlu dilakukan. Baru belakangan ini aku merenung ternyata banyak perumpamaan atau analogi yang aku terima terkait perasaan dan pikiran negatif. Menarik untuk dikumpulkan. Barangkali ada yang membaca tulisan ini dan menjadi lebih paham. Hingga saat ini aku menemukan 10 perumpamaan. Tapi yang akan dibahas di artikel ini adalah 5 perumpamaan agar pembahasannya lebih mendalam.

  1. Seperti ruangan atau kamar kotor di rumah – Tante Atha dan Suami

Tante Atha adalah orang yang aku temui di tempat aku terapi. Beliau juga salah satu pasien. Setelah lama bertemu, suatu hari Tante Atha mendatangi aku dan menawarkan bantuan kepadaku. Ternyata sebelum beliau terapi, beliau aktif bekerja di bidang psikologi. Sayang sekali aku tidak mengetahui nama panjang dan tempat beliau bekerja. Aku bahkan juga tidak memiliki nomer hpnya. Padahal beliau adalah orang yang berbaik hati mau menolongku dengan kondisi dia masih menjadi pasien. Salah satu orang yang mau menolongku secara sukarela tanpa aku minta. Beberapa kali aku konsultasi dengan beliau dan suaminya. Di mana pun Tante Atha dan suami berada, semoga dalam keadaan baik, sehat, damai, dan bahagia.

Perumpamaan dari Tante Atha dan suaminya ini keluar saat aku konsultasi. Aku tidak langsung memahaminya, bahkan bingung. Katanya, kita adalah manusia dengan banyak memori. Diibaratkan dengan rumah dengan banyak kamar. Setiap kamar berbeda. Ada yang kotor, berantakan, berdebu, gelap, terang, bersih, bahkan rapi.

Tugas kita sebagai pemilik rumah untuk merawat rumah tersebut. Kita perlu membersihkan trauma, stress, pikiran, dan perasaan negatif yang sudah tidak membaikkan kita. Masih ingat kata mereka, “kamu perlu bersihin tuh Din, kamar-kamar yang masih kotor.” Saat itu aku bingung dan tidak tahu bagaimana caranya membersihkannya. Tapi berjalannya waktu aku lebih paham. Dengan kita menyadari ada kamar yang kotor saja, sudah sangat baik. Langkah selanjutnya adalah membersihkannya dengan tekun, rajin, dan konsisten.

  1. Seperti bangkai tikus di dalam lemari – Reza Gunawan

Aku mendengar perumpamaan ini saat mengikuti workshop yang dipimpin oleh Mas Reza tahun 2015. Di sini juga pertama kali mengenal TAT (Tapas Acupressure Technique), yaitu teknik self-healing yang bermanfaat untuk membantu melepas trauma, stress, dan luka batin. Mas Reza menjelaskan bahwa bangkai tikus itu adalah trauma, stress, atau luka batin yang perlu kita bersihkan. Beliau juga menjelaskan 4 jurus yang orang biasa lakukan dalam menghadapi permasalahan, yang sudah pernah aku tulis artikelnya di post sebelumnya.

Menurutnya, semakin lama kita mendiamkan dan mengacuhkan ‘bangkai tikus’ tersebut, baunya akan semakin tidak enak. Kita yang punya kebiasaan menutup-nutupi masalah atau memendam, ibarat menutup-nutupi lemari yang jelas tidak akan menghilangkan baunya. Sooner or later, kita perlu menyadari adanya bangkai dan membersihkannya.

Aku yang sebelumnya sering sekali berusaha berpikir positif, ternyata menyadari kalau aku hanya memberi pengharum ruangan ke lemari tersebut. Dan itu tidak menyelesaikan masalah, malah menciptakan masalah baru, yaitu depresi. Di sinilah aku ‘klik’ dan mantap bertekad untuk menghadapi permasalahanku dan membersihkannya. Sangat bersyukur mengenal Mas Reza dan TAT karena sudah sangat membantuku, kugunakan dalam jangka waktu yang lama.

  1. Seperti sampah rumah tangga – Mbak Tities

Bisa bertemu Mbak Tities itu adalah suatu anugerah untukku karena hingga saat ini pun kami berteman baik dan masih bertemu untuk tukar cerita. Pertemuan dengan Mbak Tities bisa dibilang agak ‘lucu’. Awalnya, aku membaca buku tentang menari dapat membantu keseimbangan otak kanan dan kiri. Aku yang lagi desperate mencoba untuk mencari artikel di internet. Ternyata ada artikel yang ditulis oleh Mbak Tities terkait manfaat menari karena beliau adalah dance choreographer untuk anak-anak. Aku yang merasa ‘klik’ setelah membacanya, langsung berusaha kontak Mbak Tities.

Tadinya aku ingin belajar untuk menari secara privat dengan Mbak Tities. Siapa tahu dengan belajar menari dapat membantu otakku dan bisa boost self confidence dan mempercepat proses penyembuhan depresi dengan olah fisik. Setelah bertemu Januari tahun 2016, justru pertemuan dengan Mbak Tities lebih banyak untuk konsultasi alias curhat. Malah baru tahun 2018 kami menari bersama bersama anak-anaknya yang baik dan kreatif.

Perumpamaan trauma, stress, luka batin, pikiran, dan perasaan negatif yang sudah menumpuk ibarat sampah yang menumpuk di rumah. Sampah kalau tidak dibuang akan berbau akan menimbulkan penyakit. Aku ingat Mbak Tities pernah bilang “Mbak Dina itu perlu diselamatkan, memang sampah itu perlu dibuang.” Sejak saat itu kalau aku ada perasaan atau pikiran yang kurang nyaman aku “buang”. Hingga saat ini aku masih belajar bagaimana cara “buang sampah” yang lebih baik.

“Stress is like garbage”  Medium.com

  1. Seperti saluran air yang tersumbat – Auk Murat

Bertemu dengan Mbak Auk Murat pertama kali saat aku hamil di tahun 2017 ikut kegiatan Keluarga Gentle Birth (KGB). Ada kegiatan yang bekerjasama dengan AMN Home (Auk Murat Network Home) terkait gentle birth. Ternyata Mbak Auk Murat adalah seorang certified energist. Yang diajarkan pertama kali adalah Napas Damai dan “It’s All About Energy”. Perasaan negatif itu juga adalah energi. Kita juga adalah energi. Bedanya, ada orang yang energy level rendah dan energy level tinggi.

Untuk bisa menjaga agar energy level tinggi, kita perlu olah napas. Mbak Auk yang dulu juga pernah migraine selama beberapa hari tidak sembuh, dengan berkomunikasi kepada Tuhan, mendapat jawaban “olah napasmu Uk”. Dari situlah mendapat teknik Napas Damai.

Mbak Auk mengibaratkan pikiran dan perasaan negatif, stress, trauma, dan luka batin itu seperti saluran air yang tersumbat. Kalau saluran air di Jakarta tersumbat dengan sampah, maka akan terjadi bencana banjir. Itulah juga yang bisa terjadi dengan kita, bisa “banjir”, tidak sehat. Aku menangkapnya karena tubuh kita ini terdiri dari tubuh meridian atau syaraf halus yang biasa kita lihat di tempat akupuntur. Syaraf kita bentuknya seperti saluran air. Dan memang kalau ada yang tersumbat akan tercipta penyakit. Di sinilah peran Napas Damai sebagai alat bantu untuk melancarkan aliran energi yang tersumbat.

  1. Seperti baju yang terkena noda – Indah Sulistyowati

Mbak Indah adalah salah satu terapis di AMN Home. Sering juga pertemuan di AMN Home dipimpin oleh Mbak Indah sebagai pengganti Mbak Auk. Topik yang dibawakan di sesi sharing setiap hari Selasa juga beragam. Mbak Indah pertama kali aku temui di bulan Oktober 2017, hampir 3 bulan aku mengalami postpartum blues. Dia juga orang yang sangat berjasa bagiku karena aku telah berhasil melewati masa tersebut. Dimulai dari sesi privat hingga aku berhasil mulai berani untuk ikut sesi yang ramai peserta.

Suatu hari saat sesi sharing di hari Selasa, Mbak Indah membahas tentang perumpamaan perasaan negatif seperti baju yang terkena noda. Jika datang perasaan negatif lagi, maka ada tambahan noda di baju. Hingga baju kita penuh dengan noda. Solusinya? Ya tentunya perlu dibersihkan. Tools yang digunakan adalah Napas Damai dan EFT (Emotional Freedom Technique). Jika kita lakukan Napas Damai 1x, artinya kita “mengucek” baju 1x. Jika kita lakukan Napas Damai 2x, artinya kita “mengucek” baju 2x. Dan seterusnya. Hingga baju kita tidak terlalu pekat kotorannya.

Tujuannya, adalah agar kita mempunyai baju yang bersih. Cling.

The question is: is it possible to have a clean clothe?

Jawabannya sudah menyangkut pembahasan di topik lainnya. Tapi yang ingin ditekankan di sini adalah kita perlu mencuci baju kotor kita. Masalah baju kita akan bersih, itu masalah lain karena sudah berbicara hasil. Karena dengan kita mencucinya pun, kita juga tetap akan memproduksi pikiran dan perasaan negatif. Artinya memang teknik releasing perlu dilakukan rutin, rajin, dan konsisten untuk menjaga keharmonisan batin.

garbage truck

 

Bulan Ramadhan adalah kesempatan kita untuk lebih dekat dengan Allah SWT, lebih dekat dengan Al-Qur’an, dan menjadi orang yang lebih baik. Ibuku bertanya saat awal bulan Ramadhan, “apa target di bulan Ramadhan?” Sejujurnya pertanyaan ini membuatku berpikir. Aku jadi teringat dengan khutbah Ustadh Nouman Ali Khan di Istiqlal beberapa hari sebelum Ramadhan. Salah satu yang kudapat adalah cobalah gunakan waktu di bulan Ramadhan untuk berkomunikasi ke Allah, meminta langsung kepadaNya, curhat, dan mengekspresikan diri ke Dia. Al-Qur’an adalah kalimat-kalimat dari Allah. Itu adalah bentuk Allah berkomunikasi dengan kita. Karena komunikasi itu adalah dua arah, kita pun perlu berkomunikasi balik kepada Allah. Caranya? Dengan cara berdoa kepadaNya.

Itulah targetku pada saat bulan Ramadhan kemarin. Aku ingin berdoa atau berkomunikasi kepadaNya, khatam Al-Qur’an, membaca artinya semampuku, mengurangi konsumsi gula, rutin jalan kaki, memperbanyak sedekah, dan menjadi orang yang lebih baik.

Dalam prosesnya, ternyata Allah memberiku pelajaran-pelajaran berharga. Berikut adalah beberapa hal yang aku pelajari:

lessons-learned-e1324389749537

  1. Belajar menjadi subjek, bukan objek.

Aku mengikuti beberapa kelas terkait Ramadhan. Salah satunya adalah program dari AMN Home (Auk Murat Network Home). Kelas itu dipimpin oleh Pak Wisnu, mantan penyiar, konsultan pernikahan, dan pengarang buku Love and Fear. Pak Wisnu menyampaikan, yang membuat bulan Ramadhan itu spesial adalah KITA.

Bayangkan kita punya tamu kehormatan selevel presiden datang ke rumah kita. Momen beliau bertamu akan spesial jika kita memperlakukan beliau dengan spesial. Menyambutnya, memberikan beliau bunga, jamuan makanan dan minuman, berkomunikasi, berfoto bersama, dan akhirnya menyampaikan perpisahan. Apa yang terjadi kalau kita berlaku sebaliknya? Menganggapnya sebagai angin lalu. Tentunya rasanya akan berbeda. Di sinilah peran kita menjadi subjek, untuk melakukan sesuatu, bukan menjadi objek dari sesuatu.

Sama halnya dengan Ramadhan. Kalau kita memperlakukannya dengan spesial, tentu momen di bulan Ramadhan akan spesial. Itulah yang aku coba untuk lakukan. Aku pernah bertanya ke Pak Wisnu. Bunga itu disinari oleh cahaya untuk bisa berkembang. Kalau Ramadhan dan kita, mana yang berperan menjadi bunga dan cahaya? Pak Wisnu menjawab, kita bisa mejadi sinar dan kita juga bisa menjadi bunga. Kita memberi sinar pada Ramadhan dan pada akhirnya kita pun yang akan berkembang.

Menjadi subjek juga berlaku kepada perasaan kita. Misalkan ada emosi negatif datang. Sebagai contoh di jalan ada mobil menyalip dengan mengebut hampir menyerempet dan mengklakson panjang. Apa yang kita biasanya lakukan? Kita memilih untuk mengendalikan emosi atau dikendalikan emosi? Kalau kita menjadi objek, kita akan langsung membalasnya dengan klakson tinggi, membuka jendela, marah-marah, dan adu mulut. Namun, kalau kita menjadi subjek, kita akan SADAR dengan datangnya emosi negatif, MENERIMA perasaan itu, MENGIZINKAN adanya perasaan itu, MERASAKAN perasaan itu, dan akhirnya MELEPASKAN perasaan itu.

Prakteknya? Sungguh tidak mudah. Tapi aku berusaha untuk setidaknya menyadari kalau ada yang muncul dan kurang nyaman. Biasanya aku beri jeda waktu untuk merasakannya dengan diam dan bernafas. Bukan untuk memendam, tapi untuk menyadari perasaan itu, menerimanya, mengizinkannya, merasakannya, dan mencoba untuk melepaskannya.

  1. Menjalin lebih banyak silaturahmi.

Salah satu yang kudapat juga dari khutbah Nouman Ali Khan adalah doa Nabi Ibrahim saat beliau di padang pasir. Beliau meminta kepada Allah agar dikumpulkan dengan orang-orang yang baik. Aku pun meminta hal yang sama. Dan setelah berdoa, kita perlu melakukan action agar kita selaras dengan doa yang sudah disampaikan.

Saat aku jalan pagi di sekitar komplek rumah, aku berusaha untuk menyapa tetangga yang lewat, yang biasanya aku hanya diamkan dan fokus jalan kaki. Saat ada buka puasa bersama, aku berusaha berkomunikasi, yang biasanya aku hanya fokus pada makananku. Sudah lama aku tidak curhat ke teman jika ada masalah. Di bulan Ramadhan aku pertama kalinya curhat ke teman setelah sekian lama. Saat makan malam keluarga, aku berusaha untuk membuka pembicaraan dan memupuk hubungan yang sudah ada. Saat ada kumpul keluarga besar, aku berusaha secara tulus atau sincere menanyakan bagaimana kabar keadaan mereka, yang biasanya aku memilih siapa yang aku mau sapa. Atau sekedar memberi senyuman kepada orang yang aku temui di jalan.

Itulah beberapa contoh apa yang sudah aku terapkan. Ternyata aku merasakan dengan lebih banyak bersilaturahmi, dan memberi kualitas dalam silaturahmi, aku merasakan kehangatan. After I tried to engage with family, friends, and people, I feel warmth and I am not alone.

3. Sedekah

Sedekah di sini dalam arti luas, yaitu memberikan sebagian rezeki untuk orang lain. Program Pak Wisnu di bulan Ramadhan adalah 21 Hari Mencipta Surga. Salah satu yang dianjurkan untuk dilakukan secara rutin adalah memberi makan untuk berbuka sebanyak 1-2 porsi. Kita bisa memilih menunya di warteg atau di restoran, kemudian menjelang buka puasa memberikannya kepada orang yang membutuhkan.

Lucunya, di lain kesempatan, aku bertemu dengan teman di café untuk tukar cerita. Tapi aku bersyukur sekali ternyata obrolan kita pun meluas dan sampai pada topik memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Temanku bercerita pernah pergi ke Jogja dan menyewa becak untuk diajak keliling mencari orang yang ingin diberi nasi bungkus. Hanya dia sendiri. Pengalamannya sangat menyenangkan. Dia juga bercerita pernah melakukan hal serupa dengan teman-temannya di Vihara. Tidak ada wacana karena hari tertentu, tetapi karena murni ingin berbagi.

Aku tersentuh mendengar cerita temanku. Aku menjadi terinspirasi. Yang aku lakukan adalah mempraktekannya. Bisa dihitung dengan tangan memang, tidak banyak, namun aku lakukan. Aku juga ikut acara tahunan di Rumah Remedi, yaitu Dapur Cinta. Kami, sekitar 20 orang, memotong bahan makanan, memasak makanan, menyiapkan box, tissue, sendok, dan membagikannya. Pengalaman yang indah karena aku membayangkan ada orang-orang yang akan makan dari tempe dan kembang kol yang sudah kami potong-potong, dan ayam yang kami goreng.

Yang aku rasakan? Hati jadi sejuk melihat mata orang yang menerima, mereka tersenyum dan terimakasih, kadang malah mereka kaget tidak menyangka dan kegirangan. Terimakasih kepada orang-orang yang menginspirasiku untuk berbagi.

  1. Memulai belajar mendengarkan.

Setelah aku depresi dua tahun lalu, aku mengambil pelajaran bahwa tidak baik memendam perasaan. Sejak itu aku berusaha untuk mengeluarkan, mengekspresikan, dan menyampaikan perasaanku. Ternyata, di Ramadhan ini aku menyadari bahwa mengekspresikan diri itu baik, namun tidak cukup. Aku juga perlu belajar mendengarkan.

Aku mendapat pelajaran ini setelah ada “diskusi” dengan orang-orang dan puncaknya adalah suamiku. Aku kaget karena suamiku merasa “penuh” setelah aku menyampaikan uneg-uneg. Aku bingung padahal aku sudah berusaha memilih waktu yang tepat, dengan kata-kata yang baik, saat keadaan beliau lagi rileks, dan malah kadang sebelum “diskusi” aku melakukan TAT (Tapas Acupressure Technique) agar lebih tenang. Aku berdoa kepada Allah mohon tunjukkan yang aku perlu lakukan, karena aku bingung aku salah di mana. Karena aku merasa sudah “do my homework”.

Allah alhamdulillah menjawabku. Di suatu kesempatan di AMN Home, Pak Wisnu memberikan pencerahan yang menurutku mindblown:

“Din, selama ini kamu sudah belajar menyampaikan, mungkin sekarang waktunya kamu untuk mendengarkan. Siapa tahu dengan mendengarkan akan melengkapi proses penyembuhanmu.”

Aku mendapat ah-ha moment. Aku benar-benar langsung terkesima, kagum dengan proses ini. Wow, keren banget! Iya ya, I wanted to be listened. But hey, other people also have feelings and they also need to be listened. Jarang sekali terpikir untuk mendengarkan orang lain.

Pas sekali ada program baru dari Eling Yuk yang dibuat oleh Suha Hoedi, Healer’s Circle. Program yang dibuat sebagai wadah anggotanya untuk curhat dan belajar mendengarkan. Di kelas itu diajarkan bagaimana menjadi pendengar yang baik, memberikan respon yang baik, dan menyampaikan sesuatu dengan baik. Seakan Allah sudah memberikan tanda dan ini adalah salah satu wadah untukku belajar mendengarkan dan segera mempraktekkannya.

Ini pun aku mantap praktekkan. Hasilnya? Juga Wow! Tidak mudah, hehe… Sampai sekarang pun masih aku praktekkan. I have my highs and lows. Kadang pikiranku ke mana-mana, kadang gatal sekali untuk memberikan tanggapan, saran, dan yang sulit sekali adalah tidak memberikan judgement. Sering sekali, orang itu hanya butuh didengarkan, tidak butuh saran. Hal yang tak ternilai yang bisa kita berikan adalah waktu dan kita hadir di sini kini bersama mereka. I have so much respect for people who can actually listen. Hebat orang-orang yang bisa mendengarkan. I applaud you.

  1. Menjadi lebih terbuka.

Kalau mendengar kata terbuka, yang aku rasakan adalah sesuatu sedang terbuka dan sisi dalam kembali terhubung dengan sisi luar. Seperti orang membuka pintu atau jendela. Menjadi lebih terbuka di sini adalah diri, hati, dan pikiran. Entah mengapa, aku melihat buku yang judulnya Open Wide, teringat Ya Fattah yaitu salah satu sifat Allah yang Maha Membuka, dan ikut khutbah Nouman Ali Khan yang judulnya Reconnect with Qur’an. Reconnect di sini bisa aku artikan kembali membuka diri dengan Al-Qur’an. Dan terakhir, kelas Pak Wisnu yang salah satu hal yang bisa aku ambil adalah anjuran untuk kembali terhubung dengan sistem yang sudah ada (alam).

Salah satu kebiasaanku adalah memberikan judgement ke orang. Secara sadar maupun tidak sadar. Yang menarik, Pak Wisnu mengatakan, dengan kita memberikan judgement ke orang, itu sama halnya dengan membangun benteng dengan orang tersebut. Sehingga kita tidak dapat melihat secara keseluruhan karena sudah tertutup dengan judgement.

Dulu Mbak Tities, orang yang sangat membantuku saat aku depresi, pernah bilang “hanya Mbak Dina yang bisa membuka bentengnya.” Benteng di sini maksudnya aku dulu cenderung menutup diri dari orang di sekitarku. Aku pernah berdoa agar Allah membukanya.

Semua seakan masih tersambung. Kalau sedang punya masalah pun kita perlu “terbuka” dengan solusi yang akan muncul. Pelajaran dari 1 sampai 4, menjadi subjek bukan objek, menjalin lebih banyak silaturahmi, sedekah, dan memulai belajar mendengarkan, bisa dibilang membantuku untuk menjadi lebih terbuka. Aku jadi lebih menyadari bahwa aku adalah bagian dari sistem atau alam yang sudah dibuat oleh Allah. Aku mendapatkan sesuatu, dan aku juga memilih untuk memberikan sesuatu agar alirannya lancar dan harmonis. Kita masing-masing punya peran di alam semesta ini.

Itulah pelajaran yang aku dapat. Silakan ambil yang bermanfaat. Semoga kita bisa harmonis dengan diri, Allah, orang-orang, dan alam.

Ada salah satu ketakutanku, yaitu takut dikontrol atau takut diatur. Jujur dulu ada titik di mana aku super tidak tahan dengan orang yang memberiku saran apalagi perintah. Masih mending kalau memintanya dengan cara yang baik, tapi ada juga dengan cara yang kurang baik. Dari kecil aku cenderung anak yang pemalu, anak yang penurut, tidak neko-neko, melakukan kewajiban, dan sedikit sekali menuntut. Contoh cerita Adina kecil si pemalu adalah pernah ada acara Halloween saat aku kecil di Kemang, dan ada anak bule dengan kostum balerina menyodorkan keranjang berisi beraneka permen setelah aku bilang “trick or treat!“, aku hanya mengambil kurang dari lima permen. Sedangkan anak yang lain mengambil banyak permen bahkan bergenggam-genggam. Bukan berarti moral of the story akhirnya menjadi Adina yang mengambil permen bergenggam-genggam lho ya 🙂

Namun, aku mulai menyadari being obedient is not always good.

Aku jadi teringat dengan film Ella Enchanted. Di cerita tersebut Ella dikaruniai ‘hadiah’ dari seorang peri bernama Lucinda. Kebetulan pada saat Lucinda menggendong Ella, dia sedang menangis. Kemudian ada ide untuk menghadiahkan Ella hadiah menjadi anak yang penurut. Saat Lucinda mengatakan “now, go to sleep!”, Ella sekejap tidur di tengah tangisannya. Saat Lucinda mengatakan “wake up!”, Ella langsung terbangun dari tidurnya. Hingga Ella dewasa timbul masalah. Dia diberi perintah oleh seorang paman dari Pangeran Char untuk menikam sang pangeran. Akhirnya dengan kekuatan diri, tanpa bantuan Lucinda, Ella dapat mematahkan ‘hadiah’ obedient yang telah lama diberikan Lucinda sejak bayi.

Lama aku tidak menyadari apa yang aku ingingkan, apa yang aku ingin tuju, kalau ada pun, aku sulit atau malu untuk mengungkapkannya. Cita-cita seorang Adina saat SD adalah menjadi dokter karena dulu aku terpilih menjadi dokter kecil. Aku sungguh belum tahu. Ada rasa takut permintaanku berlebihan dan takut salah memilih. Jika pilihanku salah, aku merasa sangat merasa bersalah dan down. Jadi aku cenderung menerima, mengikut, dan meniru. Siapa yang aku tiru? Teman mainku, saudara sepupuku, teman sekolahku, dan lingkungan sekitarku.

Saat SMP aku menjadi anak yang kurang percaya diri dan sering sekali membandingkan dengan anak perempuan yang lain. Pernah saat ke salon untuk memotong rambut, aku sangat tidak suka dengan model rambut baruku, yaitu semacam pixie haircut. Tidak suka karena tidak feminin. Tapi aku pun tidak berani mengungkapkan ketidaksukaanku. Aku akhirnya hanya menangis di kamar sambil memegang rambutku, menariknya agar panjang lagi. Orangtuaku pun tidak tahu kalau aku tidak suka. Alhasil? Keesokan harinya aku memakai jilbab ke sekolah untuk menutupinya karena aku malu dan tidak percaya diri untuk menunjukannya.

Saat SMA, aku alhamdulillah terpilih menjadi salah satu siswa akselerasi. Senang bukan main. Satu kelas berisi 12 siswa, termasuk aku. Aku tidak tahu kalau menjadi siswa akselerasi berarti waktu untuk belajar akan lebih ditingkatkan, harus cepat memahami, saat siswa reguler libur kami akan masuk sekolah, berupaya agar nilai harus selalu bagus dan mencukupi untuk naik kelas, kurang tidur, dan prone to stress. Karena kalau tidak, kami akan degrade ke kelas reguler. Saat itu entah mengapa aku takut untuk di-degrade. Jadilah sisi perfeksionisku mulai muncul dan aku tambah takut untuk melakukan kesalahan. Waktu untuk kegiatan ekstrakulikuler pun lebih sedikit. Pernah aku bergabung dengan ekskul pecinta alam. Aku sempat dipicingi guru pembimbing ekskul tersebut karena jarang masuk pertemuan rutin. Sempat sedih, tapi aku bersyukur masih sempat ikut acara susur pantai.

Saat kuliah, ada bagian diriku yang bilang “enough Din, let’s change.” Aku kemudian start fresh dan melabeli diriku sebagai Adina yang narsis. Kata “narsis” pun bukan dari aku, tapi dari temanku. Aku tidak sadar kalau yang aku lakukan itu ternyata bentuk orang yang narsis. Kalau ada orang yang memujiku, reaksiku adalah “iya donk, gw gitu loh.” Didukung dengan mimik wajah yang seperti itu. Dulu aku berpikir narsis sama dengan percaya diri. Ternyata bukan ya teman-teman 🙂

Di lingkungan keluarga, aku melabeli diriku sebagai Adina yang suka melawak. Aku mahir sekali mengikuti logat aktor dan aktris di film-film, model di catwalk, penyanyi, dan dancer. Biasanya kalau aku meniru aksen mereka, atau berlenggok seperti model, menyanyi, dan melakukan goofy dance, orang di sekitarku akan tertawa. Aku senang karena aku ingin orang di sekitarku senang dengan keberadaanku. Aku dulu merasa sangat ingin diterima, walaupun di lingkungan keluarga sekalipun. Tapi aku bersyukur, sisi humorisku mulai muncul dan yang tadinya aku buat-buat, lama-lama menjadi lebih natural.

Ternyata, lama-kelamaan aku juga kurang nyaman dengan label “Adina Narsis.” Karena itu bukan Adina yang asli. Walaupun aku sudah mencoba menggunakan cara itu, aku tetap merasa useless. It’s so tiring to impress people! Sampai saat aku sedih aku pernah menulis hal yang tidak baik ke diriku sendiri di selembar A4, menulis dengan spidol whiteboard, dan menempelnya di lemari agar terilihat jelas. Itu adalah salah satu bentuk aku ‘menghukum’ diriku sendiri. Sangat tidak sehat. Adina yang suka melawak pun menjadi jarang melawak karena memang luka batin sudah mulai tidak bisa ditutupi.

Puncaknya saat terbentur masalah pada awal 2015. Benar saja, aku mulai sering menangis tanpa sebab dan sulit tidur. Aku mulai merasa disconnect dengan diriku. Keluarga dan teman-temanku pun kaget. Aku mulai mencari bantuan dan alhamdulillah ada juga bantuan yang di-refer keluarga. Oktober 2015 akhir, alhamdulillah aku mulai bertemu orang yang mengerti psikologi di salah satu tempat terapi. Namanya Tante Atha. Tante Atha saat itu juga sedang mengikuti terapi di tempat yang sama. Sebelum sakit, beliau juga berprofesi sebagai semacam konselor psikologi. Suatu hari beliau menghampiriku dan bilang kalau aku sedang mencari jati diri. Tidak hanya satu yang berkata demikian. Januari 2016 aku bertemu Mbak Tities, seorang dance choreographer yang juga berpengalaman dalam membimbing ABK. Aku mendapatkan kontak Mbak Tities melalui internet saat aku super linglung dan bingung mau mencari ke mana. Mbak Tities pun juga bilang hal yang sama. “Mbak Dina itu sedang mencari jati diri.” Dalam hatiku, “wow, bisa ya aku yang sudah berumur 27 tahun ini (pada saat itu) masih mencari jati diri.”

Kalau aku sekarang melihat diriku yang dulu, ternyata aku memang benar sedang mencari jati diri. Cenderung menjadi “yes, woman“, belum tahu boundary-ku, merasa tidak punya pilihan, merasa dikontrol, sulit dan malu mengungkapkan pendapat, tidak berani menolak, merasa pendapatku tidak berharga, tidak percaya diri, sangat takut melakukan kesalahan, self love sangat minus, merasa kurang diapresiasi, dan haus apresiasi.

Tahun 2016 awal, saat di rumah sakit, aku mulai meminta. Yup, meminta. Hal yang baru untukku. Aku meminta kepada orang di sekitarku, yang saat itu adalah keluargaku, untuk memberi aku pilihan dan tolong hargai pilihan dan pendapatku. Selama 2016 aku berusaha untuk mengungkapkan pendapatku dan uneg-unegku. Ingin sekali didengar. Kondisi diri saat itu sering mengalami mood yang kurang baik dan sering marah-marah. Ternyata di balik perasaan marah itu ada rasa takut orang di sekitarku belum bisa menerima diriku seutuhnya, karena aku pun belum menerima diriku seutuhnya.

Hal yang aku pelajari dari yang kualami, dari aku bertemu Tante Atha, dan dari konseling dengan Mbak Tities:

  • Aku belajar untuk bersyukur.
  • Aku belajar mensyukuri atas segala apa yang aku alami karena aku jadi lebih mengenali “Adina kecil” dan Adina yang asli.
  • Aku belajar bahwa aku adalah orang yang kuat dan mampu menjalani hidup.
  • Aku jadi sadar banyak orang yang menyayangiku, terutama keluargaku yang mampu memberi support selama aku dalam masa sulit.
  • Aku belajar bahawa Allah menyayangiku, menjagaku, membimbingku, menuntunku sejak aku kecil hingga sekarang.
  • Aku belajar bahwa berbuat kesalahan itu bukan akhir segalanya, karena dengan kesalahan kita bisa belajar menjadi orang yang lebih baik.
  • Aku belajar mengobati luka batinku dengan cara menyadarinya, menerimanya, menghadapinya, bukan menutupinya, menguburnya, memendamnya, bahkan menahannya.
  • Aku belajar bahwa kita seperti rumah dengan banyak ruangan yang berisi pengalaman. Ada ruangan yang indah, bersih, dan harum yang berarti berisi dengan pengalaman yang indah dan baik. Namun ada juga ruangan yang kotor dan gelap, yang berarti berisi dengan pengalaman yang kurang baik. Kita perlu menyayangi ‘rumah’ kita ini dengan cara merawatnya, membersihkannya, dan mendekorasinya sesuai dengan keinginan kita agar kita bahagia tinggal di dalamnya.
  • Aku belajar kembali mengenali rasa cinta, kasih, dan sayang.
  • Aku bersyukur aku masih memiliki keluarga, rumah, pakaian, bisa tidur, mandi, makan, minum, bisa merasakan rasa kangen, sayang, dan cinta.
  • Aku bersyukur bisa mempunyai rasa percaya ke diri, keluarga, Allah, dan society.
  • Aku belajar mendengarkan isi hatiku, mimpiku, tujuanku, keinginanku, dan menghargai pendapatku. It’s okay to have dreams, goals, wants and opinion about things.
  • Aku belajar menentukan pilihan dan menjadi kapten dalam proses pembuatannya.
  • Aku belajar bahwa konflik itu perlu dihadapi, bukan dihindari dan ditutupi.
  • I learned that it’s okay to get help. I am not alone. Dan aku bersyukur bisa bertemu orang baik yang dapat membantu.
  • Aku belajar untuk memaafkan diri dan orang lain.
  • Aku belajar untuk bilang minta maaf ke diri.
  • Aku belajar untuk bilang terimakasih ke diri.
  • Aku belajar untuk bilang I love you ke diri. I learned to love the whole me.
  • Aku belajar menghargai kelebihanku dan lebih mempercayai diri.
  • Aku belajar menyadari dan menerima kekuranganku, bukan menghukum diri karena memiliki kekurangan tersebut.
  • Aku belajar memahami apa yang aku suka dan tidak suka.
  • Aku belajar mengenali boundary-ku dan menghargainya.
  • Aku belajar bahwa menangis itu bukan kelemahan. It’s okay to cry.
  • Aku belajar menyadari, menerima, rasa marah, sedih, takut, dan melepaskannya. It’s okay to feel angry, sad, and fear. It means we are human.
  • I learned to flow and to let go.
  • Aku belajar mengekspresikan diri melalui tulisan, lisan, dan gerakan.
  • I learned that I am beautiful just the way I am.
  • Aku belajar bahwa aku punya purpose atau tujuan hidup di dunia ini.
  • I learned to relax and take it easy.
  • Aku belajar bahwa semua baik. Semua baik. It’s all good. It’s okay.

Aku mau mengucapkan terimakasih atas segala pihak yang sudah membantuku agar aku menjadi orang yang lebih baik dan lebih berbahagia, baik yang aku sadari maupun yang tak aku sadari. Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat. Kalau memang Anda pernah mengalami hal yang mirip atau sedang mengalaminya, it’s okay, you are not alone 🙂

Social Media sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Waktu kita bayak dipakai untuk melihat social media. Banyak hal baik dan menyenangkan hati yang bisa kita peroleh dari Social Media seperti informasi, tips, motivasi, inspirasi, hiburan, gambar indah, kabar keluarga, dll. Hal-hal itu menjadi penyumbang isi hati yang baik, bahagia, dan nyaman. Kita bisa belajar banyak hal dari social media.

Tidak bisa dipungkiri hadirnya social media juga bisa jadi sumber penyumbang emosi negatif bisa dari kabar negatif, bencana, gossip, dan kabar kurang mengenakkan lainnya. Produktivitas kita pun bisa menurun dengan terlalu banyak menghabiskan waktu di social media. Bahkan, foto yang netralpun bisa jadi membuat tidak enak di hati. Ada teman kita jalan-jalan ke negara lain kita iri hati. Ada keluarga yang punya anak, menikah, kita biasa saja. Ada teman yang menjadi pembicara atau punya prestasi lain misalkan bisnisnya maju kita menganggap remeh.

Seperti memakan junk food. Nikmat sesaat, tapi akan merusak kesehatan kita secara menyeluruh kalau kita memakan terlalu banyak dan sering. Sama halnya dengan social media. Akan menyenangkan dan membawa kebahagiaan kalau digunakan dalam jangka waktu yang tepat, saat yang tepat, dan cara menggunakan yang tepat.

Tapi hey, sebenarnya kita bisa kok untuk memilih. Memilih menggunakan social media untuk tempat mendapat cipratan bahkan siraman kebahagiaan, berkah, pahala, dan doa, atau sebaliknya, hanya mengotori hati dan pikiran kita. Saya pernah melihat akun Instagram seorang yang punya hobi memasak makanan sehat dan berkreasi menu. Hampir di setiap konten dia menulis “YAY or NAY?” artinya kita bisa memilih, apakah kita menyukai foto yang dia post atau tidak. Padahal menurut saya, apa yang dia post selama ini adalah hal-hal yang indah, sehat, dan positif dengan kualitas fotonya pun cantik. Saya berpikir apa iya ada yang tidak menyukai konten yang dia buat? Mungkin saja ada.

Waktu kita memilih untuk membuka social media penting. Berikut adalah waktu yang dihindari untuk membuka social media:

  1. Saat ada pekerjaan yang perlu dikerjakan. Karena bagaimana pun, kita perlu mengutamakan apa yang sudah menjadi prioritas kita, yaitu pekerjaan kita. Bekerja di kantor atau di rumah sebagai ibu rumah tangga pun perlu mengutamakan apa yang perlu dikerjakan agar perasaan kita pun menjadi lega.
  2. Saat ada keluarga atau teman yang berkunjung ke rumah. Karena kapan lagi kita akan connect dengan saudara, keluarga, dan teman kita selain dengan mengobrol dan berinteraksi langsung? Melihat matanya, gerak-geriknya, mendengar suaranya, adalah cara kita untuk bertukar energi positif. Bukan dengan membuka hp saat mereka datang.
  3. Saat ada acara keluarga atau bertemu teman di luar. Hampir sama dengan nomor 2. Plus, kita sudah berupaya untuk pergi menemui mereka. Gunakan waktu yang ada sebaik-baiknya karena mereka tidak 24 jam bersama kita. Toh kita akan bisa melihat social media saat kembali ke rumah.
  4. Saat sebelum tidur. Karena otak dan syaraf perlu istirahat dan lebih tenang sebelum tidur agar kita mendapatkan tidur yang berkualitas. Kasih waktu diri kita untuk relax dengan mendengarkan musik lembut sebelum tidur.
  5. Saat bangun tidur. Karena tubuh kita perlu udara segar, stretching, olahraga, makanan, dan minuman yang baik untuk memulai hari. Bukan dibanjiri dengan gambar dan informasi dari dunia maya.

Bagaimana dengan durasi melihat social media? Ini juga menjadi faktor penting kebahagiaan. Setiap orang mempunyai durasi yang berbeda. Tapi langkah awal adalah menyadari berapa lama waktu yang dihabiskan per hari untuk membuka social media. Untuk aku sendiri, bisa menghabiskan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Sungguh waktu yang banyak. Tapi kalau kita menggunakannya untuk melihat hal yang positif dan digunakan saat pekerjaan sudah dijadwalkan dan diselesaikan, tentu akan jauh lebih bermanfaat. Kita juga bisa menargetkan maksimal per hari sekian jam. Misalkan akan diturunkan 2-3 jam. Lama-kelamaan akan terbiasa untuk menggunakan social media dengan durasih yang lebih bijak.

Aku percaya, manusia dilahirkan baik, mempunyai hati nurani. Punya kebaikan. Dan menjadi orang yang punya pemikiran dan perasaan positif tentunya enak. Hidup damai kalau hati dan perasaan kita bersih. Sungguh indah dunia ini jika kita melihat dari kacamata yang positif. Berikut adalah beberapa cara simple dan mudah untuk menjaga hati kita agar tetap bersih, bahkan ikut dapat cipratan dan siraman kebaikan dalam ber-social media:

  1. Follow akun Instagram yang menginspirasi. Kata-kata motivasi terlahir dari orang-orang yang sudah punya pengalaman atau punya keberhasilan atau sudah healed. Dan kata-kata positif tersebut akan sangat membantu kita untuk bangkit, atau bahkan mengobati hati kita yang sedang down. Kalau hati sedang happy, kita tentu akan mengangguk kuat mengaminkan kata-kata baik tersebut.
  2. Follow akun Instagram yang beraneka warna. Siapa sih yang tidak suka pelangi? Orang-orang yang sedang kena macet pun akan terobati hatinya jika melihat pelangi. Hal-hal yang mempunyai warna indah bersifat therapeutic untuk hati dan perasaan kita. Misalkan penuh bunga, tanaman, binatang, dan lukisan.
  3. Follow akun Instagram yang punya humor yang tinggi. Because, we need more laugh in this world. Sudah cukup banyak kabar yang sedih dan bikin miris. Orang-orang yang punya humor tinggi akan jauh dari stress, dan hidupnya penuh dengan kedamaian. Sudah banyak orang zaman sekarang yang tinggal di kota yang defisit tertawa. Senda gurau itu perlu dan penting!
  4. Follow akun Instagram yang mempunyai sisi seni yang baik. Saya follow akun teman yang suka menggambar Mandala. Entah mengapa itu membuat hati saya senang dan gembira. Mood saya lebih baik saat melihat Mandala indah yang dia buat. Sungguh penuh detail yang apik dan epic. Keren deh pokoknya. Jadi, seni tidak bisa dianggap enteng. Karya indah bisa membangun mood lho!
  5. Follow akun Instagram orang-orang sukses dan positif. Oprah Winfrey, Selena Gomez, Taylor Swift, The Rock, Will Smith, Maudy Ayunda, Retno Hening, adalah contoh akun Instagram dengan orang-orang yang positif dan sukses. Kalau kita berkumpul di lingkungan orang-orang yang baik, maka kita akan tertular hal baik dari orang tersebut. Dan alam bawah sadar kita akan ikut senang kalau idola kita juga senang.
  6. Follow akun instagram yang sesuai dengan hobby Anda. Hampir semua hobby bisa ditemukan di Instagram. Kalau Anda mempunyai hobby essential oil, banyak akun tentang essential oil. Begitu juga dengan memasak, interior design, fashion, jogging, yoga, melukis, menulis indah, membuat sabun, menyanyi, menari, atau lainnya.
  7. Follow akun Instagram komunitas yang baik. Setiap orang pasti punya komunitas yang disuka dan cocok dengan minat. Contohnya adalah komunitas agama, berkebun, lari, atau bahkan kalau kasus aku, komunitas yang men-support ibu baru. Komunitas-komunitas ini selain terus memberi kita semangat, inspirasi, dan ide kreatif, mereka juga sering post foto-foto yang indah dilihat.

Bagaimana dengan akun saudara, keluarga, dan teman? Padahal ada juga akun Instagram saudara, keluarga, dan teman yang tidak sesuai dengan value kita? Benar, dan kita juga bisa memilih akun saudara, keluarga, dan teman yang bisa kita follow. Selain itu, kalau memang ada sesuatu yang di-post oleh mereka yang berseberangan dengan kita, kita juga bisa belajar dari orang yang tersebut kok. Dengan demikian, kita bisa melatih compassion, forgiveness, dan unditional love.

Salah satu tip adalah, saat mereka berbahagia, cobalah untuk ikut merasakan kebahagiaan mereka. Kita getarkan atau vibrasikan perasaan bahagia di dalam diri kita saat melihat foto yang baik dan bahagia. Dengan berlatih ikut tersenyum saat melihat foto orang yang tersenyum, lama-kelamaan kita juga terbiasa untuk bahagia di saat orang lain berbahagia. Kalau kita latih ini, kebiasaan kurang baik membandingkan akan berkurang dan kebaikan-kebaikan inshaAllah akan lebih mudah menghampiri kita.

Dari tips di atas kita bisa memanfaatkan social media untuk hal-hal yang sehat dan baik. Kita belajar dan latih diri untuk menumbuhkan bibit-bibit positif yang akan kita petik buah manisnya kelak.

Pernah bertemu dengan idola? Artis yang dikagumi? Mendapat rezeki tak diduga? Apa rasanya?

Pasti sangat senang! Itu yang aku rasakan saat dapat kabar kalau Ustadh Nouman Ali Khan akan datang ke Indonesia dan ceramah di Masjid Istiqlal. Huaaahh… Beyond excited deh pokoknya! And it didn’t stop there. Ada orang yang berbaik hati memberikan tiket yang udah dipesannya ke aku. Double WOW! Alhamdulillah… Super. Seneng. Banget. Padahal aku baru dapat kabarnya H-2 dari acara.

Aku mau bilang terimakasih banyak buat Mbak Yuli yang sudah memberikan aku tiket ke ceramah Ustadh Nouman Ali Khan. Sayangnya Mbak Yuli tidak bisa hadir karena ada acara di luar kota.

Kalau belum kenal Ustadh Nouman Ali Khan, akan aku ceritakan singkat tentang beliau. Beliau adalah pendiri dan CEO dari Bayyinah Institue di Amerika Serikat. Lahir di Jerman, 4 Mei 1978 dari keluarga berkebangsaan Pakistan. Saat remaja beliau dan keluarga pindah ke New York. Beliau belajar bahasa Arab pertama kali di Riyadh, Saudi Arabia. Namun beliau mempelajari bahasa Arab secara resmi pada tahun 1999 di Amerika Serikat. Akhirnya tinggal di Texas hingga sekarang mengajar Bahasa Arab dan Al-Qur’an di Bayyinah Institute. Ustadh Nouman sering mengajar tentang Islam melalui video YouTube, Bayyinah Institute.

Berikut adalah isi dari khutbah Ustadh Nouman Ali Khan. Selamat membaca!

Dulu Nabi Ibrahim hidup di masyarakat yang di dalamnya hanya beliau yang mendapat petunjuk dari Allah SWT. Ayah dan pamannya tidak mempercayai Nabi Ibrahim as. Orang-orang di sekitarnya menyembah berhala. Sedikit yang percaya Nabi Ibrahim as pada saat itu. Walaupun demikian, Nabi Ibrahim termasuk nabi yang sering memanjatkan doa ke Allah, berbicara ke Allah. Banyak doa dari Nabi Ibrahim as di al-Qur’an. Beliau banyak membuat statement atau permohonan ke Allah. Bahkan salah satu sebutan Islam adalah “the religion of Ibrahim”.

He made me, and He guides me. – Asy-Syu’ara’ (26:78)

Dia yang menciptakanku, dan Dia yang membimbingku.

Kita diciptakan Allah di dunia ini suatu saat akan kembali padaNya. Nabi Ibrahim as percaya bahwa berarti hidup di dunia perlu bimbingan dan petunjuk agar kembali ke Allah SWT dengan selamat.

 He’s the One who gives me food and drink. – Asy-Syu’ara’ (26:79)

Dia yang memberiku manakan dan minuman.

Kebutuhan pertama adalah guidance (bimbingan), melebihi kebutuhan makanan dan minuman. Padahal, kita sebagai manusia memerlukan makanan dan minuman. Sehari bisa tiga kali, bahkan beberapa dari kita bisa makan lebih dari tiga kali. Kita makan secara teratur dan sering. Namun, kita memerlukan guidance melebihi kita memerlukan makanan dan minuman yang kita dapatkan dan lakukan secara teratur.

Pernahkah kita berpikir dari manakah makanan yang kita makan berasal? Misalkan pisang berasar dari bibit kecil yang kemudian ditanam di tanah. Setelah itu dengan bantuan air dan sinar matahari, bibit pisang tumbuh menjadi pohon pisang yang kokoh. Lama-kelamaan menghasilkan buah yang kemudian dipanen oleh petani, didistribusikan, di jual di pasar, dan akhirnya sampai di depan kita siap untuk dimakan.

Kita sebagai manusia perlu memahami proses tersebut. Melihat makanan tidak hanya penampakan akhir, tapi juga membayangkan proses pembuatan makanan. Makanan kita berasal dari beberapa macam daerah di dunia dan sampai ke piring kita. Itu semua adalah kuasa Allah SWT memberi makanan untuk kita. Begitu dalam rasa syukur Nabi Ibrahim yang ditunjukkan.

Nabi Ibrahim as dulu diusir dari rumah. Tidak punya rumah, desa, negara, pengikut, dan keluarga. Bagaimana dengan makanan? Minuman? Apa yang akan dia lakukan? Akan pergi ke mana? Bagaimana dia akan menjalani hidup? Namun Nabi Ibrahim mempunyai kepercayaan bahwa Allah SWT yang akan memberikannya petunjuk ke mana dia akan pergi, dan Allahlah yang akan memberikannya makanan. Nabi Ibrahim as yakin beliau baik-baik saja karena mempunyai Allah.

He is going to give me death, and he’ll me bring to life again. – Asy-Syu’ara’ (26:81)

Dia yang akan memberikan kematian dan akan menghidupkanku kembali.

Di kehidupan ini, kita semua akan mendapat kesempatan dibimbing (chance of guidance), tidak pandang agama, suku, ras, dan daerah, tanpa memperhatikan apakah atheist, muslim, musyrik. Semua mendapatkan makanan dan minuman. Tapi di kehidupan selanjutnya (afterlife), kita tidak akan mendapatkan petunjuk.

Who, I hope, will forgive me my mistakes on judgment day. – Asy-Syu’ara’ (26:82)

Yang amat ingingkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.

Di doa ini Nabi Ibrahim as fokus ke diri sendiri. Mengapa? Karena pada saat judgment day (hari pembalasan), kita hanya akan peduli dengan diri, tidak memikirkan orang lain. Padahal di kehidupan sekarang orang-orang cenderung fokus ke orang lain. Sangat mahir melihat kesalahan dan kekurangan orang lain. Tanpa melihat ke dalam, tidak sadar atas kesalahan dan kekurangan yang kita miliki.

Robbi habli hukman – Asy-Syu’ara’ (26:83)

Ya Allah, give me strong decision-making power, the ability to make the right decision when it’s very hard.

Ya Allah, berikanlah kepadaku kemampuan untuk mengambil keputusan.

Permintaan 1: Bimbingan (guidance)

Permintaan 2: Kekuatan untuk mengambil keputusan yang benar (the strength to make the right decision)

Karena setelah kita mendapat bimbingan atau petunjuk dan tau apa yang dilakukan, kita perlu kemauan (willpower) dan kekuatan (strength) untuk melakukannya. Dalam kasus Nabi Ibrahim as, saat menyembelih Nabi Ismail as perlu keikhlasan, saat dibakar di api yang panas perlu ketenangan, saat diperintahkan untuk meninggalkan keluarga di tengah gurun pasir perlu kekuatan. Contohnya di saat kita mendapat petunjuk bahwa pekerjaan kita sekarang tidak halal, apakah kita berani untuk meninggalkannya?

Wa adkhilnil bissoolihiin – Asy-Syu’ara’ (26:83)

And join me with good people.

Dan kumpulkan aku dengan orang-orang yang baik (saleh).

Bahkan Nabi Ibrahim as memerlukan bantuan orang lain. Nabi Ibrahim as meminta Allah agar dikumpulkan dan ditemukan dengan orang-orang yang baik. Kalau melihat kondisi kita di masa sekarang, kita perlu memeriksa siapa teman kita? Apa yang dibicarakan oleh teman kita? Apa yang disuka oleh teman kita? Apa yang tidak disuka oleh teman kita? Apakah teman kita ini membuat kita dekat dengan Allah? Apakah teman kita ini membuat kita ingat bimbingan dari Allah? Kalau Nabi Ibrahim as saja memerlukannya, berarti apalagi kita lebih memerlukan ditemukan dengan orang-orang baik.

Waj’allii lisaana sidqin fil aakhiriin – Asy-Syu’ara’ (26:84)

Provide for me someone who will speak the truth in the last generation.

Sediakan orang yang akan berbicara benar di generasi kemudian.

Pada saat itu Nabi Ibrahim as diberi Allah SWT banyak ujian. Orang-orang perlu belajar dari kisahnya agar iman tambah kuat. Kalau dia meninggal, tidak ada yang mengetahui bimbingan dan petunjuk yang sudah diberikan. Nabi Ibrahim as minta ada seseorang di masa yang akan datang yang akan menceritakan kisahnya kelak. Beribu tahun kemudian muncul Rasulullah yang mempunyai mukjizat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kisah Nabi Ibrahim as. Al-Qur’an sebernarnya adalah bentuk Allah menjawab doa Nabi Ibrahim as.

Ya Allah make me from people who inherit jannah. Forgive my father, for surely he is of those who have gone astray. My Rabb do not humiliate me on the day on which all of them will be raised. The day on which money and children will be no good. Except who ever comes in front of Allah with a healthy or a safe heart. – Asy-Syu’ara’ (26:85-89)

Di ayat itu dijelaskan bahwa yang akan sangat berharga pada Hari Kiamat adalah hati yang sehat dan bersih (qolbu saleem). Oleh karena itu di bulan Ramadhan ini kita perlu reconnect dengan Allah dan kita perlu mempunyai hati yang sehat dan bersih.

Setelah itu, Nabi Ibrahim as mempunyai anak, Nabi Ismail as. Saat membangun Ka’bah, beliau berdoa:

Our Lord! And make us submissive unto You and of our offspring a nation submissive unto You, and show us our Manasik, and accept our repentance. Truly, You are the One Who accepts repentance, the Most Merciful. – Al-Baqarah (2:128)

Dari doa di atas ada permintaan Nabi Ibrahim as “dari anak-anak kami, berikanlah keturunan yang muslim”. Karena untuk mendapat manfaat di Hari Kiamat, perlu hati yang sehat dan bersih. Cara Allah menjawab doa Nabi Ibrahim as adalah memberikan seorang rasul yang akan menceritakan ayat tentang Nabi Muhammad SAW.

Di bulan Ramadhan ini kita sebenarnya merayakan terjawabnya dan dikabulkannya doa Nabi Ibrahim as. Sebagai umat muslim kita perlu mengerti hubungan Al-Qur’an dengan Nabi Ibrahim as sebelum kita reconnect dengan Al-Qur’an.

Jadi, tujuan diturunkannya Al-Qur’an salah satunya adalah untuk mendapatkan hati yang sehat dan bersih (qolbu saleem). Tidak hanya di mata, mulut, telinga, otak. Membaca, melafazkan, mendengar, dan mengerti di kepala itu mudah, tapi agar masuk di hati, sangat sulit. Untuk kembali terhubung dengan Al-Qur’an, kita perlu membuka hati.

Setiap manusia mempunyai masalah yang sama, yaitu ada jarak antara hati kita dengan Al-Qur’an. Kita perlu usaha untuk kembali terhubung dengan Al-Qur’an. Karena, kadang kita perlu diberi tahu sesuatu berulang kali untuk hal yang kita sudah pernah tahu sebelumnya. Contoh, kita sedang marah dengan ibu kita. Kita pergi dari rumah. Di jalan bertemu teman yang bilang “itu ibumu!”. Hal yang sudah kita tahu, tidak ada informasi baru. Tapi kata-kata itu perlu kita dengar karena itu akan masuk ke hati, bukan otak. Itulah cara kerja Al-Qur’an. Perlu kita dengar berulang kali untuk masuk ke hati.

“Healing yourself emotionally is undoubtedly the biggest gift you could ever give yourself!” – Kari Joys

Perjalanan healing-ku bisa aku anggap sebagai perjalanan mengenali diriku atau self discovery. Banyak hal yang aku pelajari tentang diriku. Salah satunya adalah bagaimana aku menghadapi permasalahan. Amazing-nya, jurus yang aku pakai untuk menghadapi permasalahan itu berubah-ubah.

Dimulai dari tahun 2015, aku mulai mendapatkan sandungan hidup yang menurutku termasuk besar. Dulu, di saat aku terjatuh, aku tidak tahu harus pergi ke mana, bertanya ke siapa, mencari jawaban di mana, dan bingung harus mulai dari mana. Tema self healing dan penyembuhan secara holistik pun belum sepopuler sekarang. Alhamdulillah secara bertahap aku menemukan jawaban-jawaban dan mulai berjalan.

Sampai akhirnya aku bekerja di restoran makanan organik, Burgreens Organic Eatery di Rempoa sebagai marketing staff. Aku bersyukur sekali bisa tahu Burgreens melalui Instagram, bisa dikasih kesempatan untuk bekerja di sana, dan bisa mengenal Helga Angelina, atasanku saat itu. Karena melalui Burgreenslah aku mulai mengenal orang-orang yang membantu kesehatanku secara holistik hingga sekarang. Saat itu Burgreens sering membuat event bertema kesehatan dan mengundang para ahli di bidangnya. Di sinilah aku pertama kali mengenal Mas Reza Gunawan, praktisi penyembuhan secara holistik. Helga pun saat itu mengusulkan untuk aku belajar dan berkonsultasi ke Mas Reza.

Menurut Mas Reza, ada empat jurus kungfu yang sering digunakan saat kita dihadapkan dengan permasalahan, yaitu:

  1. Jurus Memendam

Orang yang memakai jurus ini cenderung menghindari konflik. Mereka memilih untuk menyimpan masalah yang mereka hadapi, tidak sharing ke orang lain. Kalau ada perasaan negatif seperti sedih, marah, kecewa, benci, dan takut, mereka sangat lihai untuk menutupinya, melawannya, dan menahannya. Banyak yang melakukan ini karena takut menyakiti orang lain dan tidak ingin hubungannya dengan orang lain menjadi tidak baik. Namun, suatu saat emosi yang terpendam ini bisa meledak dan membuat mereka dan orang di sekitarnya bingung.

  1. Jurus Melampiaskan

Orang yang memakai jurus ini sering marah-marah untuk meluapkan emosinya. Mereka tidak segan menunjukkan emosinya kepada orang lain. Tidak jarang menggunakan nada tinggi, melempar barang, memukul tembok atau benda di sekelilingnya, mata terbelalak, dan teriak-teriak. Marah-marah yang dilakukan ini sebenarnya hanya asap, bukan sumber kebakarannya. Biasanya akar emosinya bisa bersumber dari beberapa macam emosi, bisa karena bingung, kecewa, takut, gelisah, dan kesal. Orang di sekitarnya bisa saja terkena getahnya walaupun bukan penyebab akar permasalahan. Meskipun mereka sudah meluapkan atau mengeluarkan emosi, namun tetap saja merasa marah karena mereka sering tidak sadar apa akar emosinya dan tidak disampaikan dengan baik.

  1. Jurus Melarikan Diri

Orang yang memakai jurus ini menggunakan pelarian untuk pergi dari masalah. Contoh yang sering kita temukan adalah makan-makan, nonton, nyalon, dan belanja. Contoh yang lebih ekstrim adalah drugs dan pergi ke club. Namun aku juga pernah melihat jurus melarikan diri yang lebih positif, yaitu olahraga, traveling, menulis, menggambar, menari, dan menyanyi. Walaupun demikian, suatu saat mereka tetap perlu untuk kembali ke realita dan belajar menghadapi permasalahannya.

  1. Jurus Mengacuhkan

Orang yang memakai jurus ini sering tidak mempedulikan perasaannya. Sering menjawab “it’s okay” jika ditanya “are you okay?” padahal di dalam hati sangat tidak okay. Sering menjawab “I’m fine” padahal hati dipenuhi perasaan yang campur aduk. Kalau jurus memendam, mereka tidak ingin ada konflik dengan orang lain. Kalau jurus mengacuhkan, mereka tidak ingin ada konflik sama sekali. Mereka menggunakan jalan pintas “aku baik-baik saja”. Kebiasaan ini lama-kelamaan akan berbahaya karena nantinya tidak terkoneksi dengan hatinya, tidak hanya mereka akan bingung perasaan negatif apa yang sedang dirasakan, tetapi juga akan muncul kemungkinan mereka cenderung sulit merasakan perasaan yang positif.

Setelah Mas Reza menjelaskan jurus-jurus di atas, di sinilah aku sadar kalau aku sering sekali menggunakan jurus memendam dan mengacuhkan.

Ada perumpaan yang hingga saat ini aku ingat. Masalah dan kita diibaratkan dengan bangkai tikus di lemari. Apa yang dilakukan oleh orang-orang dengan jurus di atas? Jurus memendam mungkin akan mengunci lemari sehingga tidak lagi tercium baunya. Jurus melampiaskan mungkin akan marah-marah saat mencium bau bangkai tikusnya. Jurus melarikan diri mungkin akan memberi pengharum ruangan sampai baunya ditutupi. Jurus mengacuhkan mungkin akan membiarkan begitu saja bangkai tikus itu.

Terus, sebaiknya bagaimana donk? Apa solusinya?

Dengan kewarasan dan akal sehat, tentunya kita akan memilih untuk mengakui adanya bangkai tikus, menerima baunya, berupaya untuk membersihkannya, dan akhirnya melepaskan bangkai tikus tersebut. Kalau kita mengunci lemari, kita perlu membukanya. Kalau kita marah-marah dengan baunya, kita perlu berhenti dan menerima baunya. Kalau kita memberi pengharum, kita perlu berhenti memberi pengharum karena suatu saat bau tengiknya pun akan muncul kembali. Kalau kita mengacuhkan, kita perlu kembali ke lemari tersebut dan membersihkannya.

Selama mendengarkan penjelasan dari Mas Reza, aku merefleksikan ke diriku. Dan memang aku akui saat itu aku belum mengakui, belum menerima, dan masih resist. Dulu aku sangat marah tapi aku tidak mau marah-marah. Aku melarikan diri dalam arti menghindari orang bersangkutan. Aku memendam tidak mengutarakan perasaanku karena aku takut konflik. Aku mengacuhkan perasaanku karena aku tidak mau merasakan marah dan aku takut dosa. Aku sering sekali menutupi, melawan, dan menahan emosiku dan kurang bisa mengekspresikannya dengan baik.

Tahun 2018, aku mempelajari versi lain dari 4 jurus di atas yaitu 3R. Versi 3R ini aku pelajari dari Mas Ferry Fibriandani, salah satu terapis di Rumah Remedi. 3R ini juga menjelaskan bagaimana orang menghadapi masalah, disingkat menjadi 3R:

  1. Reactive. Sama dengan jurus melampiaskan.
  2. Redirect. Sama dengan jurus melarikan diri.
  3. Repress. Menggabungkan jurus memendam dan mengacuhkan.

Biasanya, jurus yang kita gunakan untuk menghadapi masalah, kita adopsi dari lingkungan sekitar yang kita pelajari dari kecil. Jurus itu secara tidak sadar masuk ke alam bawah sadar kita atau unconscious mind. Cara yang aku tahu saat itu adalah menangis (kadang sendirian, kadang ke orang lain) dan curhat. Kalau curhat, reaksinya pun macam-macam. Komentar yang sering aku dapat adalah “udah jangan nangis”, “ga usah dipikirin”, “jalan-jalan aja yuk”, “ga boleh nangis”, “ah, kebanyakan mikir lo!”, “yang sabar ya”, “yang kuat ya”, “udah, dibawa santai aja”, “jangan marah, ga baik”, “cengeng”, “jangan sedih donk”, “udah, ikhlasin aja”, “lebay ih”, “kalau dlupain aja gimana?”, “drama banget sih”, dst.

Aku mau berterimakasih kepada suamiku, Kurniaprasadi Shiddiq, karena beliaulah yang pertama kali aku tuju untuk curhat. Reaksinya apa? Mendengarkan, memelukmendukung untuk mencari jalan penyembuhan, dan menghormati pilihanku. Beda pendapat? Tentu ada. Tapi alhamdulillah sampai sekarang kami dapat melaluinya. Dan aku juga mau berterimakasih kepada orang-orang yang berkomentar di atas karena niat mereka adalah untuk membantuku. Walaupun memang ada yang caranya kurang baik dan berkomentar kurang nyaman di hati. Itulah cara yang mereka tahu saat itu. Terakhir, aku ingin berterimakasi kepada diriku, Adina Nur Hidayatri, atas segala proses dan upaya yang telah dilalui dari dulu hingga sekarang alhamdulillah menjadi jauh lebih baik.

 

The Journey Begins

It doesn’t matter when we start. It doesn’t matter where we start. All that matters is that we start. — Simon Sinek

Terimakasih sudah bergabung denganku!

Pernahkah Anda mengalami depresi dalam hidup Anda? Tidak tahu arah, tujuan, dan apa yang Anda mau di dunia ini? Tidak tahu apa artinya hidup? Merasa kesepian? Sulit tidur, terbangun berkali-kali saat malam hari, dan bangun dengan berdebar? Mengalami panic attack? Tidak tahu arti dari self love atau mencintai diri? Tidak tahu arti dari bahagia? Emosi tidak stabil dan tidak tahu cara mengolah emosi dengan baik? Berat badan menurun drastis dan kesehatan tubuh kurang baik? Merasa putus asa dan tidak ada gairah hidup? Hati dan pikiran dipenuhi dengan hal-hal yang menakutkan dan negatif? Merasa sering gelisah, was-was, khawatir, dan takut? Menutup diri dari teman dan keluarga? Sulit menelan makanan? Mengkonsumsi antidepressant? Sering merasa bersalah, bingung, dan marah-marah ke diri maupun orang sekitar? Merasa jauh dari Allah atau Tuhan? Nafas pendek dan tersengal? Badan lemas dan pegal-pegal?

Jika Anda merasakan hal-hal tersebut, berarti kita mempunyai banyak kesamaan.

Karena aku pernah menjadi orang tersebut.

Tenang, Anda tidak sendirian.

Butuh beberapa waktu, tetapi akhirnya aku berhasil keluar dari depresi, mulai bisa menelan dan memakan makanan dan minuman yang baik, berat badanku mulai ideal, perlahan keluar dari kacamata negatif yang aku pakai dalam waktu lama, menemukan senyumku kembali, mulai sayang dengan diri, being a better version of myself, bisa melanjutkan hidup bersama keluarga, dan akhirnya aku dan suami dikaruniai seorang anak pada 18 Agustus 2017 lalu.

Aku memilih memaafkan. Memaafkan diri dan orang lain. Aku memilih kasih sayang. Menyayangi diri dan orang lain. Aku berusaha bersyukur atas apa yang sudah kualami dan kudapat. Aku berusaha untuk menerapkan ini setiap hari. Hingga aku menemukan dan memakai kacamata positifku secara konsisten. Dan aku berupaya agar aku terus menjadi lebih baik secara konsisten!

Banyak yang telah aku pelajari sepanjang jalan. Banyak orang-orang hebat yang aku temui yang sangat menginspirasiku dan membantuku untuk sehat secara holistik, jiwa maupun raga. Hingga saat ini pun aku masih belajar. Dan aku pun masih mendapatkan persoalan-persoalan hidup. Karena memang kita akan terus belajar, tumbuh, dan berkembang. Oleh karena itu aku ingin membagi apa yang telah kupelajari dengan teman-teman yang sedang merasa kurang sehat secara lahir dan batin melalui Blog ini.

Mengapa aku menamakan Blog ini The Wise Edelweiss? Berharap kita bisa belajar, tumbuh, dan berkembang bersama-sama dengan indah seperti bunga Edelweiss yang menyenangkan hati orang yang melihat. Warna putih dari Edelweiss melambangkan kesucian hati di diri manusia yang aku yakin masing-masing manusia memilikinya. Kutambahkan Wise, yang berarti kebijaksanaan dengan harapan kita bisa menjadi manusia yang lebih bijaksana (dan tentunya kata Wise rhyming dengan kata Edelweiss, hehe…). Kalau melihat bunga Edelweiss, apakah pernah hanya tumbuh sendirian? Tentu tidak. Bunga Edelweiss selalu tumbuh bersama-sama sehingga indah dilihat. Penting untuk menambahkan kata together, karena dengan bersama-sama kita akan lebih kuat. Together, we are stronger and BETTER!

Tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, izinkan aku untuk mengenalkan diri. Namaku Adina Nur Hidayatri. Aku adalah seorang ibu rumah tangga, ibu dari Medina Azka Kirana, istri dari Kurniaprasadi Shiddiq, pernah menjalani bachelor’s degree di Teknik Industri ITB 2006-2011, master’s degree di Master of Business Monash University Australia 2013-2014, pencinta alam dan bunga (I’m in love with the outdoors!), penikmat essential oil, penggemar crystal atau gemstone, hobi membuat smoothie dan juiceholistic healing enthusiast, dan depression survivor, orang yang pernah mengalami depresi dua kali. Bukan, aku bukan ahli kesehatan, ahli psikologi, ahli agama, holistic healing practitioner, atau therapist. Aku adalah orang yang sedang belajar dan ingin berbagi ilmu, pengalaman, dan pencerahan yang sudah didapat. Dengan harapan dapat membantu diriku dan Anda untuk bangkit kembali secara konsisten. And if at some point what I write sparks something within you, moves you forward, and helps you to heal and thrive, it’s a plus and I am going to be so happy to be part of that!

Imagine that you wake up every morning with grateful heart, full with positive energy, feeling magnificent, powerful, and excited to welcome the day. AND, imagine that you sleep every night with satisfaction, smile, and calm so you have restful quality sleep. How beautiful that is! What I learned that it all starts with ME. It all starts with YOU. RIGHT HERE… RIGHT NOW…

Semoga Blog ini dapat membuat ripple effect yang indah di semesta ini. Semoga Blog ini dapat memberi manfaat untuk diriku, Adina Nur Hidayatri, keluargaku, orang yang aku sayangi, orang di sekitarku, orang yang membutuhkan, dan alam semesta. Terimakasih Allah telah memberikan kami bimbingan, tuntunan, petunjuk, hidayah, dan pencerahan dengan cara yang indah bagi kami, orang yang menulis, membaca, menginspirasi, dan membagi tulisan ini.

Hope we can learn, grow, and bloom TOGETHER beautifully. Just like edelweiss. And be wiser as a human. — The Wise Edelweiss

post