Hubunganku dengan Lagu Bahagia by GAC

Dulu ada kalanya pikiran dan perasaan dipenuhi rasa bingung, marah, lelah, sedih, khawatir, takut, kesal, jengkel, ngoyo, kecewa, dst. Rasa yang aku sebut gado-gado karena tidak nyaman. Adina yang dulu belum tau bagaimana menghadapi rasa gado-gado ini kadang memendam, kadang mengacuhkan, kadang mengalihkan, kadang curhat.

Banyak yang berkomentar yang kuterima:

  • “jangan nangis, ga baik”
  • “kita harus positif!”
  • “kita harus bahagia, ga boleh sedih!”
  • “dengerin lagu aja biar semangat”
  • “jalan-jalan aja biar ga stress”
  • “kalau kita sedih, artinya kita ga bersyukur”
  • “kan sudah punya semuanya, kok sedih sih?”
  • “karaoke yuk biar happy”
  • dst dsb dll

Apa efeknya komentar dan saran tersebut? Aku berpikir aku harus mengubah mindset “aku HARUS berpikir positif!”, “aku HARUS bahagia!”, “aku POKOKNYA ga boleh sedih!”, “aku semangat kok!” “kalau aku sedih, orang lain akan sedih”. Untuk membuktikannya, aku sering sekali mendengarkan lagu BAHAGIA by GAC. Kok ya paaaaasss sekali lagu BAHAGIA by GAC lagi ngetrend. Aku dengarkan saat mandi, siap-siap ngantor, di jalan otw kerja, di tempat kerja, di jalan otw rumah, dan sampai di rumah lagi. Seperti lagu kebangsaan aku putar lagu itu terus dengan ekspektasi mendekatkan diri ke pulau yang bernama BAHAGIA. Aku berhenti menangis. aku ga mau mengangis. Aku stop menangis. Dengan misi ingin bahagia berarti jangan nangis. Ditemani lagu itu, aku putar sampai beberapa lama. And trust me, lama.

Hingga akhirnya aku stop. Karena aku merasa perasaan gado-gadoku masih ada. Heran. Bingung. Linglung. Lelah. Kan aku udah stop nangis? Kan aku udah berpikir positif? Kan aku udah memutar lagu positif? Kan aku sudah menyanyi lagu yang positif? Kan aku udah melakukan hal-hal yang disarankan yang positif itu? Kan aku udah karaoke dan jalan-jalan? Kan aku udah nulis-nulis hal positif di post-it notes dan ditempel di mana-mana biar inget harus semangat?

Aku merasa otakku ga beres dan perlu dibenahi. Berpikir “kok ga positif-positif sih?” Untuk melawan perasaan negatif, aku lawan dengan pikiran positif. Masih berusaha, aku cari solusi hingga saatnya aku mengambil langkah untuk terapi menari. Berbekal baca buku dan riset di internet, aku mendapatkan kesimpulan bahwa menari dapat menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Pikirku, aku perlu spooring and balancing dengan menari biar bahagia.

Aku menemukan seorang dance choreographer, Mbak Tities, yang niatnya untuk terapi menari privat di rumah. Begitu bertemu pertama kali, Mbak Tities yang juga gifted, mengeluarkan kata-kata yang bikin aku kaget. “Bingung ya?” “Suka bikin target ya?” “Perfeksionis ya?” Seperti panah yang tepat sasaran, rasanya mendengar fakta-fakta itu aku sakit, tapi juga lega dan BAHAGIA. Aku berpikir, akhirnya ada orang yang paham dengan kondisiku. Langsung kami set up waktu untuk sesi pertama ASAP.

Dengan pakaian yang nyaman sudah siap untuk menari, aku datang ke tempat Mbak Tities. Dan ternyata di sesi pertama, kita tidak menari! Hehe.. Ternyata sesi “Adina Show” dengan Mbak Tities interviewernya. Di ruangan yang ada cermin luasnya, aku menghindari cermin. Mbak Tities menyadari dan meminta aku untuk bercermin. Aku tidak mau dan malu, tidak percaya diri. Mbak Tities tidak memaksa. Mbak Tities lalu memutuskan untuk memutar lagu dari HP.

bahagia

Apa lagu yang diputar? B A H A G I A by G A C.

Aku yang sudah sangat familiar dengar lagu itu, langsung seperti keran yang terbuka dengan deras, menangis selepas-lepasnya bersamaan dengan lagu itu diputar. Herannya, aku yang terbiasa kalau aku menangis hampir selalu ada yang menyuruh untuk berhenti menangis, Mbak Tities malah membiarkan aku menangis, mengamati, dan memberiku ruang untuk bereaksi dengan lagu itu.

Heran, padahal aku belum pernah cerita lagu kebangsaanku itu ke Mbak Tities. Kebetulan? Kalau memang Allah sudah menggariskan untuk memintaku untuk JUJUR dengan perasaanku sebenarnya, itulah yang terjadi. Tidak perlu cermin lebar untuk berkaca ke hati. Reaksiku sudah mencerminkan perasaanku saat itu. Hebat banget ya cara Allah. So beautiful.

Di situlah aku pertama kali belajar JUJUR dengan perasaan gado-gado itu. Karena sudah lama sekali aku merasa bersalah dengan punya perasaan gado-gado itu. Merasa bersalah ke diri, ke Allah, dan orang-orang terkait. Takut sekali berdosa. Takut tidak bersyukur. Komentar-komentar orang membuatku merasa takut dengan perasaan negatif itu. Walaupun demikian, dengan rasa hormat dan kasih sayang, terimakasih kepada yang telah memberiku saran. Thank you for being there with me. Dengan niat baik komentar dan saran itu disampaikan ke aku.

Di sesi-sesi selanjutnya dengan Mbak Tities, aku diajak untuk JUJUR dengan perasaanku sendiri (Iya, kami malah tidak terapi menari, hehe..). Mbak Tities mendengarkan semua ceritaku dengan sabar dan lembut. Di saat yang sama, aku pun juga belajar untuk mendengarkan diriku sendiri. Hal yang baru sekali untukku saat itu. Dengan berjalannya waktu, aku berkembang dan tambah baik dalam mendengarkan isi hati dan pikiranku.

Aku sadar, bukan lagu BAHAGIA yang salah, but my attitude towards that song was wrong. Aku dulu menggunakan lagu itu untuk pelarian, pelampiasan, pemendaman, pengacuhan dari perasaan gado-gadoku yang tidak nyaman itu. Ternyata kalau aku berani untuk JUJUR dengan perasaanku, aku tidak perlu menutupinya dengan lagu-lagu. Now I’m happy to say that my relationship with that song is better. Aku merasa netral saat mendengarkan dan malah cenderung bisa menikmati. Aku mendengarkannya sebagai keindahan dan doa.

Bagaimana dengan Pulau Bahagia? Baru kemarin aku melihat video kartun tentang Happiness. Kalau kita mencari kebahagiaan dan menjadi obsessive untuk mendapat kebahagiaan, kita akan kecewa kalau kita belum menemukannya. Kata-kata HARUS, WAJIB, KUDU, POKOKNYA bahagia, sangat membuat beban. Aku sudah merasakannya. Ibarat kebahagiaan seperti berada di suatu tempat lain, di waktu lain, di masa depan. Dengan demikian, kita tinggal di tempat lain, di waktu lain, di masa depan. Kita tidak tinggal dan hadir di sini kini saat ini. Padahal kebahagiaan itu berada di saat ini jika kita ingin dan bisa menerima apa yang hadir saat ini.

Menerima apa yang hadir saat ini pun tidak hanya hal yang menyenangkan, tetapi juga hal yang kurang menyenangkan. Apa yang hadir seperti pelangi, punya spektrum dan bervariasi. Justru di sinilah aku belajar menerima perasaan gado-gado ku itu. Begitu diterima dan dirasakan, gado-gado itu ternyata nikmat, hehe.. Saya sendiri penggemar gado-gado. Loh.

Bukankah Allah menciptakan malam dan siang? Gelap dan terang? Ada perasaan senang dan sedih. Ada suka dan duka. Ada tawa dan tangisan. Ada yin dan yang. Dan keduanya terjadi bersamaan. Di Indonesia sedang siang tetapi di belahan dunia lain sedang malam. Di Australia sedang musim kemarau, dan di Amerika sedang musim dingin. Bersamaan dengan kesulitan, ada kemudahan.

Apa yang aku pelajari?

  1. Aku belajar jujur dengan perasaanku.
  2. Aku belajar menerima dan merasakan ‘gado-gadoku’.
  3. Aku belajar makna innama’al ‘usriyusro. Bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan. It’s okay to not be okay.
  4. Aku belajar hidup di sini kini saat ini. Karena kebahagiaan itu berada di sini kini saat ini. Bukan di tempat dan waktu lain.
  5. Aku belajar untuk memperbaiki sikapku kepada lagu BAHAGIA by GAC. Menikmatinya, bukan sebagai pelarian, pelampiasan, pengacuhan, pemendaman, atau perlawanan perasaan.

Aku inshaAllah tetap percaya kebahagiaan itu ada. Akan kututup dengan doa. “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah: 201).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: