Analogi Trauma, Stress, Luka Batin, Perasaan dan Pikiran Negatif (part 1)

Sejak aku berusaha untuk sembuh dari depresi dan belajar tentang metode penyembuhan, aku mendengar beberapa analogi dari beberapa sumber. Analogi ini dipakai untuk memudahkan kita memahami apa yang terjadi dan solusi apa yang perlu dilakukan. Baru belakangan ini aku merenung ternyata banyak perumpamaan atau analogi yang aku terima terkait perasaan dan pikiran negatif. Menarik untuk dikumpulkan. Barangkali ada yang membaca tulisan ini dan menjadi lebih paham. Hingga saat ini aku menemukan 10 perumpamaan. Tapi yang akan dibahas di artikel ini adalah 5 perumpamaan agar pembahasannya lebih mendalam.

  1. Seperti ruangan atau kamar kotor di rumah – Tante Atha dan Suami

Tante Atha adalah orang yang aku temui di tempat aku terapi. Beliau juga salah satu pasien. Setelah lama bertemu, suatu hari Tante Atha mendatangi aku dan menawarkan bantuan kepadaku. Ternyata sebelum beliau terapi, beliau aktif bekerja di bidang psikologi. Sayang sekali aku tidak mengetahui nama panjang dan tempat beliau bekerja. Aku bahkan juga tidak memiliki nomer hpnya. Padahal beliau adalah orang yang berbaik hati mau menolongku dengan kondisi dia masih menjadi pasien. Salah satu orang yang mau menolongku secara sukarela tanpa aku minta. Beberapa kali aku konsultasi dengan beliau dan suaminya. Di mana pun Tante Atha dan suami berada, semoga dalam keadaan baik, sehat, damai, dan bahagia.

Perumpamaan dari Tante Atha dan suaminya ini keluar saat aku konsultasi. Aku tidak langsung memahaminya, bahkan bingung. Katanya, kita adalah manusia dengan banyak memori. Diibaratkan dengan rumah dengan banyak kamar. Setiap kamar berbeda. Ada yang kotor, berantakan, berdebu, gelap, terang, bersih, bahkan rapi.

Tugas kita sebagai pemilik rumah untuk merawat rumah tersebut. Kita perlu membersihkan trauma, stress, pikiran, dan perasaan negatif yang sudah tidak membaikkan kita. Masih ingat kata mereka, “kamu perlu bersihin tuh Din, kamar-kamar yang masih kotor.” Saat itu aku bingung dan tidak tahu bagaimana caranya membersihkannya. Tapi berjalannya waktu aku lebih paham. Dengan kita menyadari ada kamar yang kotor saja, sudah sangat baik. Langkah selanjutnya adalah membersihkannya dengan tekun, rajin, dan konsisten.

  1. Seperti bangkai tikus di dalam lemari – Reza Gunawan

Aku mendengar perumpamaan ini saat mengikuti workshop yang dipimpin oleh Mas Reza tahun 2015. Di sini juga pertama kali mengenal TAT (Tapas Acupressure Technique), yaitu teknik self-healing yang bermanfaat untuk membantu melepas trauma, stress, dan luka batin. Mas Reza menjelaskan bahwa bangkai tikus itu adalah trauma, stress, atau luka batin yang perlu kita bersihkan. Beliau juga menjelaskan 4 jurus yang orang biasa lakukan dalam menghadapi permasalahan, yang sudah pernah aku tulis artikelnya di post sebelumnya.

Menurutnya, semakin lama kita mendiamkan dan mengacuhkan ‘bangkai tikus’ tersebut, baunya akan semakin tidak enak. Kita yang punya kebiasaan menutup-nutupi masalah atau memendam, ibarat menutup-nutupi lemari yang jelas tidak akan menghilangkan baunya. Sooner or later, kita perlu menyadari adanya bangkai dan membersihkannya.

Aku yang sebelumnya sering sekali berusaha berpikir positif, ternyata menyadari kalau aku hanya memberi pengharum ruangan ke lemari tersebut. Dan itu tidak menyelesaikan masalah, malah menciptakan masalah baru, yaitu depresi. Di sinilah aku ‘klik’ dan mantap bertekad untuk menghadapi permasalahanku dan membersihkannya. Sangat bersyukur mengenal Mas Reza dan TAT karena sudah sangat membantuku, kugunakan dalam jangka waktu yang lama.

  1. Seperti sampah rumah tangga – Mbak Tities

Bisa bertemu Mbak Tities itu adalah suatu anugerah untukku karena hingga saat ini pun kami berteman baik dan masih bertemu untuk tukar cerita. Pertemuan dengan Mbak Tities bisa dibilang agak ‘lucu’. Awalnya, aku membaca buku tentang menari dapat membantu keseimbangan otak kanan dan kiri. Aku yang lagi desperate mencoba untuk mencari artikel di internet. Ternyata ada artikel yang ditulis oleh Mbak Tities terkait manfaat menari karena beliau adalah dance choreographer untuk anak-anak. Aku yang merasa ‘klik’ setelah membacanya, langsung berusaha kontak Mbak Tities.

Tadinya aku ingin belajar untuk menari secara privat dengan Mbak Tities. Siapa tahu dengan belajar menari dapat membantu otakku dan bisa boost self confidence dan mempercepat proses penyembuhan depresi dengan olah fisik. Setelah bertemu Januari tahun 2016, justru pertemuan dengan Mbak Tities lebih banyak untuk konsultasi alias curhat. Malah baru tahun 2018 kami menari bersama bersama anak-anaknya yang baik dan kreatif.

Perumpamaan trauma, stress, luka batin, pikiran, dan perasaan negatif yang sudah menumpuk ibarat sampah yang menumpuk di rumah. Sampah kalau tidak dibuang akan berbau akan menimbulkan penyakit. Aku ingat Mbak Tities pernah bilang “Mbak Dina itu perlu diselamatkan, memang sampah itu perlu dibuang.” Sejak saat itu kalau aku ada perasaan atau pikiran yang kurang nyaman aku “buang”. Hingga saat ini aku masih belajar bagaimana cara “buang sampah” yang lebih baik.

“Stress is like garbage”  Medium.com

  1. Seperti saluran air yang tersumbat – Auk Murat

Bertemu dengan Mbak Auk Murat pertama kali saat aku hamil di tahun 2017 ikut kegiatan Keluarga Gentle Birth (KGB). Ada kegiatan yang bekerjasama dengan AMN Home (Auk Murat Network Home) terkait gentle birth. Ternyata Mbak Auk Murat adalah seorang certified energist. Yang diajarkan pertama kali adalah Napas Damai dan “It’s All About Energy”. Perasaan negatif itu juga adalah energi. Kita juga adalah energi. Bedanya, ada orang yang energy level rendah dan energy level tinggi.

Untuk bisa menjaga agar energy level tinggi, kita perlu olah napas. Mbak Auk yang dulu juga pernah migraine selama beberapa hari tidak sembuh, dengan berkomunikasi kepada Tuhan, mendapat jawaban “olah napasmu Uk”. Dari situlah mendapat teknik Napas Damai.

Mbak Auk mengibaratkan pikiran dan perasaan negatif, stress, trauma, dan luka batin itu seperti saluran air yang tersumbat. Kalau saluran air di Jakarta tersumbat dengan sampah, maka akan terjadi bencana banjir. Itulah juga yang bisa terjadi dengan kita, bisa “banjir”, tidak sehat. Aku menangkapnya karena tubuh kita ini terdiri dari tubuh meridian atau syaraf halus yang biasa kita lihat di tempat akupuntur. Syaraf kita bentuknya seperti saluran air. Dan memang kalau ada yang tersumbat akan tercipta penyakit. Di sinilah peran Napas Damai sebagai alat bantu untuk melancarkan aliran energi yang tersumbat.

  1. Seperti baju yang terkena noda – Indah Sulistyowati

Mbak Indah adalah salah satu terapis di AMN Home. Sering juga pertemuan di AMN Home dipimpin oleh Mbak Indah sebagai pengganti Mbak Auk. Topik yang dibawakan di sesi sharing setiap hari Selasa juga beragam. Mbak Indah pertama kali aku temui di bulan Oktober 2017, hampir 3 bulan aku mengalami postpartum blues. Dia juga orang yang sangat berjasa bagiku karena aku telah berhasil melewati masa tersebut. Dimulai dari sesi privat hingga aku berhasil mulai berani untuk ikut sesi yang ramai peserta.

Suatu hari saat sesi sharing di hari Selasa, Mbak Indah membahas tentang perumpamaan perasaan negatif seperti baju yang terkena noda. Jika datang perasaan negatif lagi, maka ada tambahan noda di baju. Hingga baju kita penuh dengan noda. Solusinya? Ya tentunya perlu dibersihkan. Tools yang digunakan adalah Napas Damai dan EFT (Emotional Freedom Technique). Jika kita lakukan Napas Damai 1x, artinya kita “mengucek” baju 1x. Jika kita lakukan Napas Damai 2x, artinya kita “mengucek” baju 2x. Dan seterusnya. Hingga baju kita tidak terlalu pekat kotorannya.

Tujuannya, adalah agar kita mempunyai baju yang bersih. Cling.

The question is: is it possible to have a clean clothe?

Jawabannya sudah menyangkut pembahasan di topik lainnya. Tapi yang ingin ditekankan di sini adalah kita perlu mencuci baju kotor kita. Masalah baju kita akan bersih, itu masalah lain karena sudah berbicara hasil. Karena dengan kita mencucinya pun, kita juga tetap akan memproduksi pikiran dan perasaan negatif. Artinya memang teknik releasing perlu dilakukan rutin, rajin, dan konsisten untuk menjaga keharmonisan batin.

garbage truck

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: