Pelajaran yang Aku Dapat dari Ramadhan 1439 H

Bulan Ramadhan adalah kesempatan kita untuk lebih dekat dengan Allah SWT, lebih dekat dengan Al-Qur’an, dan menjadi orang yang lebih baik. Ibuku bertanya saat awal bulan Ramadhan, “apa target di bulan Ramadhan?” Sejujurnya pertanyaan ini membuatku berpikir. Aku jadi teringat dengan khutbah Ustadh Nouman Ali Khan di Istiqlal beberapa hari sebelum Ramadhan. Salah satu yang kudapat adalah cobalah gunakan waktu di bulan Ramadhan untuk berkomunikasi ke Allah, meminta langsung kepadaNya, curhat, dan mengekspresikan diri ke Dia. Al-Qur’an adalah kalimat-kalimat dari Allah. Itu adalah bentuk Allah berkomunikasi dengan kita. Karena komunikasi itu adalah dua arah, kita pun perlu berkomunikasi balik kepada Allah. Caranya? Dengan cara berdoa kepadaNya.

Itulah targetku pada saat bulan Ramadhan kemarin. Aku ingin berdoa atau berkomunikasi kepadaNya, khatam Al-Qur’an, membaca artinya semampuku, mengurangi konsumsi gula, rutin jalan kaki, memperbanyak sedekah, dan menjadi orang yang lebih baik.

Dalam prosesnya, ternyata Allah memberiku pelajaran-pelajaran berharga. Berikut adalah beberapa hal yang aku pelajari:

lessons-learned-e1324389749537

  1. Belajar menjadi subjek, bukan objek.

Aku mengikuti beberapa kelas terkait Ramadhan. Salah satunya adalah program dari AMN Home (Auk Murat Network Home). Kelas itu dipimpin oleh Pak Wisnu, mantan penyiar, konsultan pernikahan, dan pengarang buku Love and Fear. Pak Wisnu menyampaikan, yang membuat bulan Ramadhan itu spesial adalah KITA.

Bayangkan kita punya tamu kehormatan selevel presiden datang ke rumah kita. Momen beliau bertamu akan spesial jika kita memperlakukan beliau dengan spesial. Menyambutnya, memberikan beliau bunga, jamuan makanan dan minuman, berkomunikasi, berfoto bersama, dan akhirnya menyampaikan perpisahan. Apa yang terjadi kalau kita berlaku sebaliknya? Menganggapnya sebagai angin lalu. Tentunya rasanya akan berbeda. Di sinilah peran kita menjadi subjek, untuk melakukan sesuatu, bukan menjadi objek dari sesuatu.

Sama halnya dengan Ramadhan. Kalau kita memperlakukannya dengan spesial, tentu momen di bulan Ramadhan akan spesial. Itulah yang aku coba untuk lakukan. Aku pernah bertanya ke Pak Wisnu. Bunga itu disinari oleh cahaya untuk bisa berkembang. Kalau Ramadhan dan kita, mana yang berperan menjadi bunga dan cahaya? Pak Wisnu menjawab, kita bisa mejadi sinar dan kita juga bisa menjadi bunga. Kita memberi sinar pada Ramadhan dan pada akhirnya kita pun yang akan berkembang.

Menjadi subjek juga berlaku kepada perasaan kita. Misalkan ada emosi negatif datang. Sebagai contoh di jalan ada mobil menyalip dengan mengebut hampir menyerempet dan mengklakson panjang. Apa yang kita biasanya lakukan? Kita memilih untuk mengendalikan emosi atau dikendalikan emosi? Kalau kita menjadi objek, kita akan langsung membalasnya dengan klakson tinggi, membuka jendela, marah-marah, dan adu mulut. Namun, kalau kita menjadi subjek, kita akan SADAR dengan datangnya emosi negatif, MENERIMA perasaan itu, MENGIZINKAN adanya perasaan itu, MERASAKAN perasaan itu, dan akhirnya MELEPASKAN perasaan itu.

Prakteknya? Sungguh tidak mudah. Tapi aku berusaha untuk setidaknya menyadari kalau ada yang muncul dan kurang nyaman. Biasanya aku beri jeda waktu untuk merasakannya dengan diam dan bernafas. Bukan untuk memendam, tapi untuk menyadari perasaan itu, menerimanya, mengizinkannya, merasakannya, dan mencoba untuk melepaskannya.

  1. Menjalin lebih banyak silaturahmi.

Salah satu yang kudapat juga dari khutbah Nouman Ali Khan adalah doa Nabi Ibrahim saat beliau di padang pasir. Beliau meminta kepada Allah agar dikumpulkan dengan orang-orang yang baik. Aku pun meminta hal yang sama. Dan setelah berdoa, kita perlu melakukan action agar kita selaras dengan doa yang sudah disampaikan.

Saat aku jalan pagi di sekitar komplek rumah, aku berusaha untuk menyapa tetangga yang lewat, yang biasanya aku hanya diamkan dan fokus jalan kaki. Saat ada buka puasa bersama, aku berusaha berkomunikasi, yang biasanya aku hanya fokus pada makananku. Sudah lama aku tidak curhat ke teman jika ada masalah. Di bulan Ramadhan aku pertama kalinya curhat ke teman setelah sekian lama. Saat makan malam keluarga, aku berusaha untuk membuka pembicaraan dan memupuk hubungan yang sudah ada. Saat ada kumpul keluarga besar, aku berusaha secara tulus atau sincere menanyakan bagaimana kabar keadaan mereka, yang biasanya aku memilih siapa yang aku mau sapa. Atau sekedar memberi senyuman kepada orang yang aku temui di jalan.

Itulah beberapa contoh apa yang sudah aku terapkan. Ternyata aku merasakan dengan lebih banyak bersilaturahmi, dan memberi kualitas dalam silaturahmi, aku merasakan kehangatan. After I tried to engage with family, friends, and people, I feel warmth and I am not alone.

3. Sedekah

Sedekah di sini dalam arti luas, yaitu memberikan sebagian rezeki untuk orang lain. Program Pak Wisnu di bulan Ramadhan adalah 21 Hari Mencipta Surga. Salah satu yang dianjurkan untuk dilakukan secara rutin adalah memberi makan untuk berbuka sebanyak 1-2 porsi. Kita bisa memilih menunya di warteg atau di restoran, kemudian menjelang buka puasa memberikannya kepada orang yang membutuhkan.

Lucunya, di lain kesempatan, aku bertemu dengan teman di café untuk tukar cerita. Tapi aku bersyukur sekali ternyata obrolan kita pun meluas dan sampai pada topik memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Temanku bercerita pernah pergi ke Jogja dan menyewa becak untuk diajak keliling mencari orang yang ingin diberi nasi bungkus. Hanya dia sendiri. Pengalamannya sangat menyenangkan. Dia juga bercerita pernah melakukan hal serupa dengan teman-temannya di Vihara. Tidak ada wacana karena hari tertentu, tetapi karena murni ingin berbagi.

Aku tersentuh mendengar cerita temanku. Aku menjadi terinspirasi. Yang aku lakukan adalah mempraktekannya. Bisa dihitung dengan tangan memang, tidak banyak, namun aku lakukan. Aku juga ikut acara tahunan di Rumah Remedi, yaitu Dapur Cinta. Kami, sekitar 20 orang, memotong bahan makanan, memasak makanan, menyiapkan box, tissue, sendok, dan membagikannya. Pengalaman yang indah karena aku membayangkan ada orang-orang yang akan makan dari tempe dan kembang kol yang sudah kami potong-potong, dan ayam yang kami goreng.

Yang aku rasakan? Hati jadi sejuk melihat mata orang yang menerima, mereka tersenyum dan terimakasih, kadang malah mereka kaget tidak menyangka dan kegirangan. Terimakasih kepada orang-orang yang menginspirasiku untuk berbagi.

  1. Memulai belajar mendengarkan.

Setelah aku depresi dua tahun lalu, aku mengambil pelajaran bahwa tidak baik memendam perasaan. Sejak itu aku berusaha untuk mengeluarkan, mengekspresikan, dan menyampaikan perasaanku. Ternyata, di Ramadhan ini aku menyadari bahwa mengekspresikan diri itu baik, namun tidak cukup. Aku juga perlu belajar mendengarkan.

Aku mendapat pelajaran ini setelah ada “diskusi” dengan orang-orang dan puncaknya adalah suamiku. Aku kaget karena suamiku merasa “penuh” setelah aku menyampaikan uneg-uneg. Aku bingung padahal aku sudah berusaha memilih waktu yang tepat, dengan kata-kata yang baik, saat keadaan beliau lagi rileks, dan malah kadang sebelum “diskusi” aku melakukan TAT (Tapas Acupressure Technique) agar lebih tenang. Aku berdoa kepada Allah mohon tunjukkan yang aku perlu lakukan, karena aku bingung aku salah di mana. Karena aku merasa sudah “do my homework”.

Allah alhamdulillah menjawabku. Di suatu kesempatan di AMN Home, Pak Wisnu memberikan pencerahan yang menurutku mindblown:

“Din, selama ini kamu sudah belajar menyampaikan, mungkin sekarang waktunya kamu untuk mendengarkan. Siapa tahu dengan mendengarkan akan melengkapi proses penyembuhanmu.”

Aku mendapat ah-ha moment. Aku benar-benar langsung terkesima, kagum dengan proses ini. Wow, keren banget! Iya ya, I wanted to be listened. But hey, other people also have feelings and they also need to be listened. Jarang sekali terpikir untuk mendengarkan orang lain.

Pas sekali ada program baru dari Eling Yuk yang dibuat oleh Suha Hoedi, Healer’s Circle. Program yang dibuat sebagai wadah anggotanya untuk curhat dan belajar mendengarkan. Di kelas itu diajarkan bagaimana menjadi pendengar yang baik, memberikan respon yang baik, dan menyampaikan sesuatu dengan baik. Seakan Allah sudah memberikan tanda dan ini adalah salah satu wadah untukku belajar mendengarkan dan segera mempraktekkannya.

Ini pun aku mantap praktekkan. Hasilnya? Juga Wow! Tidak mudah, hehe… Sampai sekarang pun masih aku praktekkan. I have my highs and lows. Kadang pikiranku ke mana-mana, kadang gatal sekali untuk memberikan tanggapan, saran, dan yang sulit sekali adalah tidak memberikan judgement. Sering sekali, orang itu hanya butuh didengarkan, tidak butuh saran. Hal yang tak ternilai yang bisa kita berikan adalah waktu dan kita hadir di sini kini bersama mereka. I have so much respect for people who can actually listen. Hebat orang-orang yang bisa mendengarkan. I applaud you.

  1. Menjadi lebih terbuka.

Kalau mendengar kata terbuka, yang aku rasakan adalah sesuatu sedang terbuka dan sisi dalam kembali terhubung dengan sisi luar. Seperti orang membuka pintu atau jendela. Menjadi lebih terbuka di sini adalah diri, hati, dan pikiran. Entah mengapa, aku melihat buku yang judulnya Open Wide, teringat Ya Fattah yaitu salah satu sifat Allah yang Maha Membuka, dan ikut khutbah Nouman Ali Khan yang judulnya Reconnect with Qur’an. Reconnect di sini bisa aku artikan kembali membuka diri dengan Al-Qur’an. Dan terakhir, kelas Pak Wisnu yang salah satu hal yang bisa aku ambil adalah anjuran untuk kembali terhubung dengan sistem yang sudah ada (alam).

Salah satu kebiasaanku adalah memberikan judgement ke orang. Secara sadar maupun tidak sadar. Yang menarik, Pak Wisnu mengatakan, dengan kita memberikan judgement ke orang, itu sama halnya dengan membangun benteng dengan orang tersebut. Sehingga kita tidak dapat melihat secara keseluruhan karena sudah tertutup dengan judgement.

Dulu Mbak Tities, orang yang sangat membantuku saat aku depresi, pernah bilang “hanya Mbak Dina yang bisa membuka bentengnya.” Benteng di sini maksudnya aku dulu cenderung menutup diri dari orang di sekitarku. Aku pernah berdoa agar Allah membukanya.

Semua seakan masih tersambung. Kalau sedang punya masalah pun kita perlu “terbuka” dengan solusi yang akan muncul. Pelajaran dari 1 sampai 4, menjadi subjek bukan objek, menjalin lebih banyak silaturahmi, sedekah, dan memulai belajar mendengarkan, bisa dibilang membantuku untuk menjadi lebih terbuka. Aku jadi lebih menyadari bahwa aku adalah bagian dari sistem atau alam yang sudah dibuat oleh Allah. Aku mendapatkan sesuatu, dan aku juga memilih untuk memberikan sesuatu agar alirannya lancar dan harmonis. Kita masing-masing punya peran di alam semesta ini.

Itulah pelajaran yang aku dapat. Silakan ambil yang bermanfaat. Semoga kita bisa harmonis dengan diri, Allah, orang-orang, dan alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: