Menjadi Orang yang Penurut Tidak Selamanya Baik

Ada salah satu ketakutanku, yaitu takut dikontrol atau takut diatur. Jujur dulu ada titik di mana aku super tidak tahan dengan orang yang memberiku saran apalagi perintah. Masih mending kalau memintanya dengan cara yang baik, tapi ada juga dengan cara yang kurang baik. Dari kecil aku cenderung anak yang pemalu, anak yang penurut, tidak neko-neko, melakukan kewajiban, dan sedikit sekali menuntut. Contoh cerita Adina kecil si pemalu adalah pernah ada acara Halloween saat aku kecil di Kemang, dan ada anak bule dengan kostum balerina menyodorkan keranjang berisi beraneka permen setelah aku bilang “trick or treat!“, aku hanya mengambil kurang dari lima permen. Sedangkan anak yang lain mengambil banyak permen bahkan bergenggam-genggam. Bukan berarti moral of the story akhirnya menjadi Adina yang mengambil permen bergenggam-genggam lho ya 🙂

Namun, aku mulai menyadari being obedient is not always good.

Aku jadi teringat dengan film Ella Enchanted. Di cerita tersebut Ella dikaruniai ‘hadiah’ dari seorang peri bernama Lucinda. Kebetulan pada saat Lucinda menggendong Ella, dia sedang menangis. Kemudian ada ide untuk menghadiahkan Ella hadiah menjadi anak yang penurut. Saat Lucinda mengatakan “now, go to sleep!”, Ella sekejap tidur di tengah tangisannya. Saat Lucinda mengatakan “wake up!”, Ella langsung terbangun dari tidurnya. Hingga Ella dewasa timbul masalah. Dia diberi perintah oleh seorang paman dari Pangeran Char untuk menikam sang pangeran. Akhirnya dengan kekuatan diri, tanpa bantuan Lucinda, Ella dapat mematahkan ‘hadiah’ obedient yang telah lama diberikan Lucinda sejak bayi.

Lama aku tidak menyadari apa yang aku ingingkan, apa yang aku ingin tuju, kalau ada pun, aku sulit atau malu untuk mengungkapkannya. Cita-cita seorang Adina saat SD adalah menjadi dokter karena dulu aku terpilih menjadi dokter kecil. Aku sungguh belum tahu. Ada rasa takut permintaanku berlebihan dan takut salah memilih. Jika pilihanku salah, aku merasa sangat merasa bersalah dan down. Jadi aku cenderung menerima, mengikut, dan meniru. Siapa yang aku tiru? Teman mainku, saudara sepupuku, teman sekolahku, dan lingkungan sekitarku.

Saat SMP aku menjadi anak yang kurang percaya diri dan sering sekali membandingkan dengan anak perempuan yang lain. Pernah saat ke salon untuk memotong rambut, aku sangat tidak suka dengan model rambut baruku, yaitu semacam pixie haircut. Tidak suka karena tidak feminin. Tapi aku pun tidak berani mengungkapkan ketidaksukaanku. Aku akhirnya hanya menangis di kamar sambil memegang rambutku, menariknya agar panjang lagi. Orangtuaku pun tidak tahu kalau aku tidak suka. Alhasil? Keesokan harinya aku memakai jilbab ke sekolah untuk menutupinya karena aku malu dan tidak percaya diri untuk menunjukannya.

Saat SMA, aku alhamdulillah terpilih menjadi salah satu siswa akselerasi. Senang bukan main. Satu kelas berisi 12 siswa, termasuk aku. Aku tidak tahu kalau menjadi siswa akselerasi berarti waktu untuk belajar akan lebih ditingkatkan, harus cepat memahami, saat siswa reguler libur kami akan masuk sekolah, berupaya agar nilai harus selalu bagus dan mencukupi untuk naik kelas, kurang tidur, dan prone to stress. Karena kalau tidak, kami akan degrade ke kelas reguler. Saat itu entah mengapa aku takut untuk di-degrade. Jadilah sisi perfeksionisku mulai muncul dan aku tambah takut untuk melakukan kesalahan. Waktu untuk kegiatan ekstrakulikuler pun lebih sedikit. Pernah aku bergabung dengan ekskul pecinta alam. Aku sempat dipicingi guru pembimbing ekskul tersebut karena jarang masuk pertemuan rutin. Sempat sedih, tapi aku bersyukur masih sempat ikut acara susur pantai.

Saat kuliah, ada bagian diriku yang bilang “enough Din, let’s change.” Aku kemudian start fresh dan melabeli diriku sebagai Adina yang narsis. Kata “narsis” pun bukan dari aku, tapi dari temanku. Aku tidak sadar kalau yang aku lakukan itu ternyata bentuk orang yang narsis. Kalau ada orang yang memujiku, reaksiku adalah “iya donk, gw gitu loh.” Didukung dengan mimik wajah yang seperti itu. Dulu aku berpikir narsis sama dengan percaya diri. Ternyata bukan ya teman-teman 🙂

Di lingkungan keluarga, aku melabeli diriku sebagai Adina yang suka melawak. Aku mahir sekali mengikuti logat aktor dan aktris di film-film, model di catwalk, penyanyi, dan dancer. Biasanya kalau aku meniru aksen mereka, atau berlenggok seperti model, menyanyi, dan melakukan goofy dance, orang di sekitarku akan tertawa. Aku senang karena aku ingin orang di sekitarku senang dengan keberadaanku. Aku dulu merasa sangat ingin diterima, walaupun di lingkungan keluarga sekalipun. Tapi aku bersyukur, sisi humorisku mulai muncul dan yang tadinya aku buat-buat, lama-lama menjadi lebih natural.

Ternyata, lama-kelamaan aku juga kurang nyaman dengan label “Adina Narsis.” Karena itu bukan Adina yang asli. Walaupun aku sudah mencoba menggunakan cara itu, aku tetap merasa useless. It’s so tiring to impress people! Sampai saat aku sedih aku pernah menulis hal yang tidak baik ke diriku sendiri di selembar A4, menulis dengan spidol whiteboard, dan menempelnya di lemari agar terilihat jelas. Itu adalah salah satu bentuk aku ‘menghukum’ diriku sendiri. Sangat tidak sehat. Adina yang suka melawak pun menjadi jarang melawak karena memang luka batin sudah mulai tidak bisa ditutupi.

Puncaknya saat terbentur masalah pada awal 2015. Benar saja, aku mulai sering menangis tanpa sebab dan sulit tidur. Aku mulai merasa disconnect dengan diriku. Keluarga dan teman-temanku pun kaget. Aku mulai mencari bantuan dan alhamdulillah ada juga bantuan yang di-refer keluarga. Oktober 2015 akhir, alhamdulillah aku mulai bertemu orang yang mengerti psikologi di salah satu tempat terapi. Namanya Tante Atha. Tante Atha saat itu juga sedang mengikuti terapi di tempat yang sama. Sebelum sakit, beliau juga berprofesi sebagai semacam konselor psikologi. Suatu hari beliau menghampiriku dan bilang kalau aku sedang mencari jati diri. Tidak hanya satu yang berkata demikian. Januari 2016 aku bertemu Mbak Tities, seorang dance choreographer yang juga berpengalaman dalam membimbing ABK. Aku mendapatkan kontak Mbak Tities melalui internet saat aku super linglung dan bingung mau mencari ke mana. Mbak Tities pun juga bilang hal yang sama. “Mbak Dina itu sedang mencari jati diri.” Dalam hatiku, “wow, bisa ya aku yang sudah berumur 27 tahun ini (pada saat itu) masih mencari jati diri.”

Kalau aku sekarang melihat diriku yang dulu, ternyata aku memang benar sedang mencari jati diri. Cenderung menjadi “yes, woman“, belum tahu boundary-ku, merasa tidak punya pilihan, merasa dikontrol, sulit dan malu mengungkapkan pendapat, tidak berani menolak, merasa pendapatku tidak berharga, tidak percaya diri, sangat takut melakukan kesalahan, self love sangat minus, merasa kurang diapresiasi, dan haus apresiasi.

Tahun 2016 awal, saat di rumah sakit, aku mulai meminta. Yup, meminta. Hal yang baru untukku. Aku meminta kepada orang di sekitarku, yang saat itu adalah keluargaku, untuk memberi aku pilihan dan tolong hargai pilihan dan pendapatku. Selama 2016 aku berusaha untuk mengungkapkan pendapatku dan uneg-unegku. Ingin sekali didengar. Kondisi diri saat itu sering mengalami mood yang kurang baik dan sering marah-marah. Ternyata di balik perasaan marah itu ada rasa takut orang di sekitarku belum bisa menerima diriku seutuhnya, karena aku pun belum menerima diriku seutuhnya.

Hal yang aku pelajari dari yang kualami, dari aku bertemu Tante Atha, dan dari konseling dengan Mbak Tities:

  • Aku belajar untuk bersyukur.
  • Aku belajar mensyukuri atas segala apa yang aku alami karena aku jadi lebih mengenali “Adina kecil” dan Adina yang asli.
  • Aku belajar bahwa aku adalah orang yang kuat dan mampu menjalani hidup.
  • Aku jadi sadar banyak orang yang menyayangiku, terutama keluargaku yang mampu memberi support selama aku dalam masa sulit.
  • Aku belajar bahawa Allah menyayangiku, menjagaku, membimbingku, menuntunku sejak aku kecil hingga sekarang.
  • Aku belajar bahwa berbuat kesalahan itu bukan akhir segalanya, karena dengan kesalahan kita bisa belajar menjadi orang yang lebih baik.
  • Aku belajar mengobati luka batinku dengan cara menyadarinya, menerimanya, menghadapinya, bukan menutupinya, menguburnya, memendamnya, bahkan menahannya.
  • Aku belajar bahwa kita seperti rumah dengan banyak ruangan yang berisi pengalaman. Ada ruangan yang indah, bersih, dan harum yang berarti berisi dengan pengalaman yang indah dan baik. Namun ada juga ruangan yang kotor dan gelap, yang berarti berisi dengan pengalaman yang kurang baik. Kita perlu menyayangi ‘rumah’ kita ini dengan cara merawatnya, membersihkannya, dan mendekorasinya sesuai dengan keinginan kita agar kita bahagia tinggal di dalamnya.
  • Aku belajar kembali mengenali rasa cinta, kasih, dan sayang.
  • Aku bersyukur aku masih memiliki keluarga, rumah, pakaian, bisa tidur, mandi, makan, minum, bisa merasakan rasa kangen, sayang, dan cinta.
  • Aku bersyukur bisa mempunyai rasa percaya ke diri, keluarga, Allah, dan society.
  • Aku belajar mendengarkan isi hatiku, mimpiku, tujuanku, keinginanku, dan menghargai pendapatku. It’s okay to have dreams, goals, wants and opinion about things.
  • Aku belajar menentukan pilihan dan menjadi kapten dalam proses pembuatannya.
  • Aku belajar bahwa konflik itu perlu dihadapi, bukan dihindari dan ditutupi.
  • I learned that it’s okay to get help. I am not alone. Dan aku bersyukur bisa bertemu orang baik yang dapat membantu.
  • Aku belajar untuk memaafkan diri dan orang lain.
  • Aku belajar untuk bilang minta maaf ke diri.
  • Aku belajar untuk bilang terimakasih ke diri.
  • Aku belajar untuk bilang I love you ke diri. I learned to love the whole me.
  • Aku belajar menghargai kelebihanku dan lebih mempercayai diri.
  • Aku belajar menyadari dan menerima kekuranganku, bukan menghukum diri karena memiliki kekurangan tersebut.
  • Aku belajar memahami apa yang aku suka dan tidak suka.
  • Aku belajar mengenali boundary-ku dan menghargainya.
  • Aku belajar bahwa menangis itu bukan kelemahan. It’s okay to cry.
  • Aku belajar menyadari, menerima, rasa marah, sedih, takut, dan melepaskannya. It’s okay to feel angry, sad, and fear. It means we are human.
  • I learned to flow and to let go.
  • Aku belajar mengekspresikan diri melalui tulisan, lisan, dan gerakan.
  • I learned that I am beautiful just the way I am.
  • Aku belajar bahwa aku punya purpose atau tujuan hidup di dunia ini.
  • I learned to relax and take it easy.
  • Aku belajar bahwa semua baik. Semua baik. It’s all good. It’s okay.

Aku mau mengucapkan terimakasih atas segala pihak yang sudah membantuku agar aku menjadi orang yang lebih baik dan lebih berbahagia, baik yang aku sadari maupun yang tak aku sadari. Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat. Kalau memang Anda pernah mengalami hal yang mirip atau sedang mengalaminya, it’s okay, you are not alone 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: