Reconnect with Qur’an (part 1)

Pernah bertemu dengan idola? Artis yang dikagumi? Mendapat rezeki tak diduga? Apa rasanya?

Pasti sangat senang! Itu yang aku rasakan saat dapat kabar kalau Ustadh Nouman Ali Khan akan datang ke Indonesia dan ceramah di Masjid Istiqlal. Huaaahh… Beyond excited deh pokoknya! And it didn’t stop there. Ada orang yang berbaik hati memberikan tiket yang udah dipesannya ke aku. Double WOW! Alhamdulillah… Super. Seneng. Banget. Padahal aku baru dapat kabarnya H-2 dari acara.

Aku mau bilang terimakasih banyak buat Mbak Yuli yang sudah memberikan aku tiket ke ceramah Ustadh Nouman Ali Khan. Sayangnya Mbak Yuli tidak bisa hadir karena ada acara di luar kota.

Kalau belum kenal Ustadh Nouman Ali Khan, akan aku ceritakan singkat tentang beliau. Beliau adalah pendiri dan CEO dari Bayyinah Institue di Amerika Serikat. Lahir di Jerman, 4 Mei 1978 dari keluarga berkebangsaan Pakistan. Saat remaja beliau dan keluarga pindah ke New York. Beliau belajar bahasa Arab pertama kali di Riyadh, Saudi Arabia. Namun beliau mempelajari bahasa Arab secara resmi pada tahun 1999 di Amerika Serikat. Akhirnya tinggal di Texas hingga sekarang mengajar Bahasa Arab dan Al-Qur’an di Bayyinah Institute. Ustadh Nouman sering mengajar tentang Islam melalui video YouTube, Bayyinah Institute.

Berikut adalah isi dari khutbah Ustadh Nouman Ali Khan. Selamat membaca!

Dulu Nabi Ibrahim hidup di masyarakat yang di dalamnya hanya beliau yang mendapat petunjuk dari Allah SWT. Ayah dan pamannya tidak mempercayai Nabi Ibrahim as. Orang-orang di sekitarnya menyembah berhala. Sedikit yang percaya Nabi Ibrahim as pada saat itu. Walaupun demikian, Nabi Ibrahim termasuk nabi yang sering memanjatkan doa ke Allah, berbicara ke Allah. Banyak doa dari Nabi Ibrahim as di al-Qur’an. Beliau banyak membuat statement atau permohonan ke Allah. Bahkan salah satu sebutan Islam adalah “the religion of Ibrahim”.

He made me, and He guides me. – Asy-Syu’ara’ (26:78)

Dia yang menciptakanku, dan Dia yang membimbingku.

Kita diciptakan Allah di dunia ini suatu saat akan kembali padaNya. Nabi Ibrahim as percaya bahwa berarti hidup di dunia perlu bimbingan dan petunjuk agar kembali ke Allah SWT dengan selamat.

 He’s the One who gives me food and drink. – Asy-Syu’ara’ (26:79)

Dia yang memberiku manakan dan minuman.

Kebutuhan pertama adalah guidance (bimbingan), melebihi kebutuhan makanan dan minuman. Padahal, kita sebagai manusia memerlukan makanan dan minuman. Sehari bisa tiga kali, bahkan beberapa dari kita bisa makan lebih dari tiga kali. Kita makan secara teratur dan sering. Namun, kita memerlukan guidance melebihi kita memerlukan makanan dan minuman yang kita dapatkan dan lakukan secara teratur.

Pernahkah kita berpikir dari manakah makanan yang kita makan berasal? Misalkan pisang berasar dari bibit kecil yang kemudian ditanam di tanah. Setelah itu dengan bantuan air dan sinar matahari, bibit pisang tumbuh menjadi pohon pisang yang kokoh. Lama-kelamaan menghasilkan buah yang kemudian dipanen oleh petani, didistribusikan, di jual di pasar, dan akhirnya sampai di depan kita siap untuk dimakan.

Kita sebagai manusia perlu memahami proses tersebut. Melihat makanan tidak hanya penampakan akhir, tapi juga membayangkan proses pembuatan makanan. Makanan kita berasal dari beberapa macam daerah di dunia dan sampai ke piring kita. Itu semua adalah kuasa Allah SWT memberi makanan untuk kita. Begitu dalam rasa syukur Nabi Ibrahim yang ditunjukkan.

Nabi Ibrahim as dulu diusir dari rumah. Tidak punya rumah, desa, negara, pengikut, dan keluarga. Bagaimana dengan makanan? Minuman? Apa yang akan dia lakukan? Akan pergi ke mana? Bagaimana dia akan menjalani hidup? Namun Nabi Ibrahim mempunyai kepercayaan bahwa Allah SWT yang akan memberikannya petunjuk ke mana dia akan pergi, dan Allahlah yang akan memberikannya makanan. Nabi Ibrahim as yakin beliau baik-baik saja karena mempunyai Allah.

He is going to give me death, and he’ll me bring to life again. – Asy-Syu’ara’ (26:81)

Dia yang akan memberikan kematian dan akan menghidupkanku kembali.

Di kehidupan ini, kita semua akan mendapat kesempatan dibimbing (chance of guidance), tidak pandang agama, suku, ras, dan daerah, tanpa memperhatikan apakah atheist, muslim, musyrik. Semua mendapatkan makanan dan minuman. Tapi di kehidupan selanjutnya (afterlife), kita tidak akan mendapatkan petunjuk.

Who, I hope, will forgive me my mistakes on judgment day. – Asy-Syu’ara’ (26:82)

Yang amat ingingkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.

Di doa ini Nabi Ibrahim as fokus ke diri sendiri. Mengapa? Karena pada saat judgment day (hari pembalasan), kita hanya akan peduli dengan diri, tidak memikirkan orang lain. Padahal di kehidupan sekarang orang-orang cenderung fokus ke orang lain. Sangat mahir melihat kesalahan dan kekurangan orang lain. Tanpa melihat ke dalam, tidak sadar atas kesalahan dan kekurangan yang kita miliki.

Robbi habli hukman – Asy-Syu’ara’ (26:83)

Ya Allah, give me strong decision-making power, the ability to make the right decision when it’s very hard.

Ya Allah, berikanlah kepadaku kemampuan untuk mengambil keputusan.

Permintaan 1: Bimbingan (guidance)

Permintaan 2: Kekuatan untuk mengambil keputusan yang benar (the strength to make the right decision)

Karena setelah kita mendapat bimbingan atau petunjuk dan tau apa yang dilakukan, kita perlu kemauan (willpower) dan kekuatan (strength) untuk melakukannya. Dalam kasus Nabi Ibrahim as, saat menyembelih Nabi Ismail as perlu keikhlasan, saat dibakar di api yang panas perlu ketenangan, saat diperintahkan untuk meninggalkan keluarga di tengah gurun pasir perlu kekuatan. Contohnya di saat kita mendapat petunjuk bahwa pekerjaan kita sekarang tidak halal, apakah kita berani untuk meninggalkannya?

Wa adkhilnil bissoolihiin – Asy-Syu’ara’ (26:83)

And join me with good people.

Dan kumpulkan aku dengan orang-orang yang baik (saleh).

Bahkan Nabi Ibrahim as memerlukan bantuan orang lain. Nabi Ibrahim as meminta Allah agar dikumpulkan dan ditemukan dengan orang-orang yang baik. Kalau melihat kondisi kita di masa sekarang, kita perlu memeriksa siapa teman kita? Apa yang dibicarakan oleh teman kita? Apa yang disuka oleh teman kita? Apa yang tidak disuka oleh teman kita? Apakah teman kita ini membuat kita dekat dengan Allah? Apakah teman kita ini membuat kita ingat bimbingan dari Allah? Kalau Nabi Ibrahim as saja memerlukannya, berarti apalagi kita lebih memerlukan ditemukan dengan orang-orang baik.

Waj’allii lisaana sidqin fil aakhiriin – Asy-Syu’ara’ (26:84)

Provide for me someone who will speak the truth in the last generation.

Sediakan orang yang akan berbicara benar di generasi kemudian.

Pada saat itu Nabi Ibrahim as diberi Allah SWT banyak ujian. Orang-orang perlu belajar dari kisahnya agar iman tambah kuat. Kalau dia meninggal, tidak ada yang mengetahui bimbingan dan petunjuk yang sudah diberikan. Nabi Ibrahim as minta ada seseorang di masa yang akan datang yang akan menceritakan kisahnya kelak. Beribu tahun kemudian muncul Rasulullah yang mempunyai mukjizat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kisah Nabi Ibrahim as. Al-Qur’an sebernarnya adalah bentuk Allah menjawab doa Nabi Ibrahim as.

Ya Allah make me from people who inherit jannah. Forgive my father, for surely he is of those who have gone astray. My Rabb do not humiliate me on the day on which all of them will be raised. The day on which money and children will be no good. Except who ever comes in front of Allah with a healthy or a safe heart. – Asy-Syu’ara’ (26:85-89)

Di ayat itu dijelaskan bahwa yang akan sangat berharga pada Hari Kiamat adalah hati yang sehat dan bersih (qolbu saleem). Oleh karena itu di bulan Ramadhan ini kita perlu reconnect dengan Allah dan kita perlu mempunyai hati yang sehat dan bersih.

Setelah itu, Nabi Ibrahim as mempunyai anak, Nabi Ismail as. Saat membangun Ka’bah, beliau berdoa:

Our Lord! And make us submissive unto You and of our offspring a nation submissive unto You, and show us our Manasik, and accept our repentance. Truly, You are the One Who accepts repentance, the Most Merciful. – Al-Baqarah (2:128)

Dari doa di atas ada permintaan Nabi Ibrahim as “dari anak-anak kami, berikanlah keturunan yang muslim”. Karena untuk mendapat manfaat di Hari Kiamat, perlu hati yang sehat dan bersih. Cara Allah menjawab doa Nabi Ibrahim as adalah memberikan seorang rasul yang akan menceritakan ayat tentang Nabi Muhammad SAW.

Di bulan Ramadhan ini kita sebenarnya merayakan terjawabnya dan dikabulkannya doa Nabi Ibrahim as. Sebagai umat muslim kita perlu mengerti hubungan Al-Qur’an dengan Nabi Ibrahim as sebelum kita reconnect dengan Al-Qur’an.

Jadi, tujuan diturunkannya Al-Qur’an salah satunya adalah untuk mendapatkan hati yang sehat dan bersih (qolbu saleem). Tidak hanya di mata, mulut, telinga, otak. Membaca, melafazkan, mendengar, dan mengerti di kepala itu mudah, tapi agar masuk di hati, sangat sulit. Untuk kembali terhubung dengan Al-Qur’an, kita perlu membuka hati.

Setiap manusia mempunyai masalah yang sama, yaitu ada jarak antara hati kita dengan Al-Qur’an. Kita perlu usaha untuk kembali terhubung dengan Al-Qur’an. Karena, kadang kita perlu diberi tahu sesuatu berulang kali untuk hal yang kita sudah pernah tahu sebelumnya. Contoh, kita sedang marah dengan ibu kita. Kita pergi dari rumah. Di jalan bertemu teman yang bilang “itu ibumu!”. Hal yang sudah kita tahu, tidak ada informasi baru. Tapi kata-kata itu perlu kita dengar karena itu akan masuk ke hati, bukan otak. Itulah cara kerja Al-Qur’an. Perlu kita dengar berulang kali untuk masuk ke hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: